Rabu, 06 Desember 2017

Perubahan Minat Pada Dewasa Awal

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setelah mengalami masa kanak-kanak dan remaja yang panjang, seorang individu akan mengalami masa dimana ia telah menyelesaikan pertumbuhannya dan mengharuskan dirinya untuk berkecimpung dengan masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, masa dewasa adalah waktu yang paling lama dalam rentang hidup yang ditandai dengan pembagiannya menjadi 3 fase yaitu; masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut (usia lanjut).
Masa dewasa dini biasanya dimulai sejak usia 18 tahun sampai dengan kira-kira usia 40 tahun dan biasanya ditandai dengan selesainya pertumbuhan pubertas dan organ kelamin anak telah berkembang dan mampu berproduksi. Pada masa ini, individu akan mengalami perubahan fisik dan psikologis tertentu bersamaan dengan masalah-masalah penyesuaian diri dan harapan-harapan terhadap perubahan tersebut.

B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pembahasan, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang dipaparkan dalam makalah ini.
1. Bagaimana kondisi yang mempengaruhi perubahan minat dewasa dini?
2. Apa faktor – faktor yang mempengaruhi minat keagamaan dewasa dini?
3. Apa faktor – faktor yang mempengaruhi partisipasi sosial pada dewasa dini?
4. Apa faktor – faktor yang mempengaruhi strategi untuk memiliki hidup yang lebih kreatif?

C. Tujuan
`           Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas,maka tujuan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi yang mempengaruhi perubahan minat dewasa dini.
2. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi minat keagamaan dewasa dini.
3. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi partisipasi sosial pada dewasa dini.
4. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi strategi untuk memiliki hidup yang lebih kreatif.

D. Manfaat
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan tujuan tersebut di atas, maka tujuan makalah ini yaitu :
1. Untuk menambah wawasan bagi kita sebagai calon psikolog.
2. Dapat mengetahui keadaan psikologi masa dewasa.
3. Dapat meningkatkan kepribadian sebagai remaja yang mulai memasuki masa dewasa.


BAB II
KAJIAN TEORI

A. Perubahan Minat Pada Masa Dewasa Dini
Seiring dengan bertambahnya tugas dan tanggungjawab yang harus diemban seseorang ketika ia sudah menginjak masa dewasa dini, seseorang akan mengalami pergeseran bahkan pengurangan bobot minat/keinginan terhadap sesuatu. Hal ini disebabkan karena minat yang sudah ada pada dirinya sejak masa kanak-kanak atau remaja terkadang sudah tidak sesuai lagi dengan perannya sebagai orang dewasa selain itu juga bisa disebabkan oleh minat yang tidak lagi memberi kepuasan seperti semula (Danio, 2003).
Masa dewasa dini tidak selalu menghilangkan minat seseorang tetapi juga dapat membuat bobot pada minat yang dimiliki seseorang bergeser. Ketika usia bertambah, orang biasanya tidak memperoleh minat baru kecuali bila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan minat itu (Danio, 2003)
Kondisi – kondisi yang Mempengaruhi Perubahan Minat Pada Dewasa Dini
            Terdapat berbagai macam kondisi yang mempengaruhi Minat pada Dewasa  Dini (Hurock, 1980);
1. Perubahan dalam kondisi kesehatan
Menjelang usia setengah baya, umumnya orang merasa bahwa kekuatan dan daya tahannya tidak lagi seperti semula. Oleh sebab itu mereka bergeser pada minat – minat yang tidak begitu memerlukan kekuatan dan daya tahan, terutama dalam rekreasi mereka.
2. Perubahan dalam Status Ekonomi
Apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal – hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya, kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga atau usaha yang kurang maju, maka orang cenderung untuk mempersempit minat mereka.
3. Perubahan dalam Pola Kehidupan
Orang muda harus meninjau kembali minat – minat lama mereka dari segi waktu, tenaga, dana dan persahabatan mereka untuk mengetahui apakah hal – hal ini sesuai dengan pola – pola kehidupan mereka yang baru atau apakah hal – hal itu masih memberikan kepuasan seperti dulu.
4. Perubahan dalam Nilai
Nilai – nilai yang diperoleh seseorang mempengaruhi minat yang sudah ada atau dapat menumbuhkan minat baru.
5. Perubahan dalam Seks
Pola kehidupan wanita dewasa sangat berbeda dengan pola kehidupan pria dewasa. Oleh sebab itu perbedaan minat berdasarkan seks menjadi semakin besar dibandingkan pada masa remaja.
6. Perubahan dari Status Belum Menikah ke Status Menikah
Karena pola kehidupan yang berbeda, orang – orang yang tidak menikah mempunyai minat yang berbeda dari mereka yang menikah yang sama usianya.
7. Menjadi Orang Tua
Pada waktu orang – orang muda itu menjadi orangtua, mereka umumnya tidak mempunyai waktu, uang atau tenaga untuk tetap melanjutkan minat mereka. Minat mereka berubah. Orientasi kehidupan keluarga menggantikan orientasi pada diri. Apakah mereka nanti akan meneruskan lagi minat – minat lama mereka sesudah mereka tidak perlu lagi berperan sebagai orangtua sebagian besar kehilangan kesempatan mengembangkan minat ini dan sebagian pada kondisi umum kehidupan mereka.
8. Perubahan Kesenangan
Apa yang disenangi dan tidak disenangi sangat mempengaruhi minat seseorang dan akan menjadi lebih kuat dengan bertambahnya usia dan ini menyebabkan minat yang mentap setelah ia dewasa.
9. Perubahan dalam Tekanan – tekanan Budaya dan Lingkungan
Pada tiap tahapan umur, minat seseorang dipengaruhi oleh tekanan – tekanan dari kelompok sosialnya. Jika nilai – nilai kelompok sosialnya berubah, minat juga akan berubah.
            Perubahan minat biasanya terjadi amat cepat pada masa remaja, seperti perubahan – perubahan fisik dan psikologis. Apabila perubahan fisik dan psikologis ini berkurang, perubahan minat maka juga akan berkurang. Sebagaimana ditunjukkan oleh Strong bertahun – tahun yang lalu, “Bagaimana seseorang pada usia dua puluh lima tahun itu sudah menunjukkan perkembangan besok dan bahkan pada usia dua puluh tahun ia telah memiliki minat – minat yang akan dibawanya sepanjang hidupnya.” (Hurlock, 1980)
            Pergeseran minat yang merupakan ciri masa dewasa dini adalah berkurangnya berbagai minat. Pada remaja lebih cenderung mengurangi jenis minatnya daripada mengubah dengan minat yang baru (Hurlock, 1980)
            Selain itu perubahan kewajiban dan tanggung jawab tidak lalu menyebabkan minat juga ikut berubah, melainkan hanya terdapat pergeseran bobot pada minat yang ada. Orang biasanya tidak memperoleh minat baru jika ia bertambah tua, kecuali jika lingkungannya berubah sama sekali atau apabila ia memperoleh kesempatan untuk mengemban minat baru disamping adanya keinginan yang kuat untuk mengembangkan minat baru (Hurlock, 1980)
            Meskipun variasi minat pada orang dewasa muda sangat luas, beberapa jenis minat tertentu dapat dianggap sebagai ciri orang dewasa muda dalam kebudayaan Amerika masa kini. Jenis minat ini dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu minat pribadi, minat rekreasional, dan minat sosial (Danio, 2003)
1. Minat Pribadi; meliputi penampilan, pakaian & perhiasan, status, simbol kedewasaan, uang dan agama.
Ketika sudah dewasa banyak terjadi perubahan penampilan yang dialami seseorang seiring dengan perubahan fisiknya. Ia mulai bisa memanfaatkan penampilan tersebut dan berusaha untuk memperbaiki penampilan. Hal ini dikarenakan kesadaran bahwa penampilan yang menarik adalah potensi besar dalam meningkatkan pergaulan. Minat untuk meningkatkan penampilan mulai berkurang menjelang umur 30-an ketika ketegangan dalam pekerjaan dan rumah tangga terasa kuat. Walaupun usia semakin bertambah namun minat terhadap pakaian dan perhiasan juga ikut bertambah. Hal ini berhubungan dengan prestise dan nilai seseorang dalam pergaulan.
Status adalah tanda-tanda tertentu yang membedakan seseorang dengan orang lain. Symbol status dapat berupa mobil, rumah dan harta benda lainnya yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya status seseorang dan dipandang sebagai bukti keberhasilan ekonomi. Orang dewasa dini biasanya berusaha menaikkan statusnya dengan cara memiliki simbol-simbol status seperti yang diterangkan di atas.
Orang-orang dewasa beranggapan bahwa uang dapat memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Maka ia akan berusaha untuk memiliki banyak uang.
2. Minat Rekreasional;
Pada masa remaja bahkan kanak-kanak, orang berekreasi hanya sekedar ikut-ikutan atau diajak orang lain/keluarga dan hanya berfungsi untuk bermain. Namun pada masa dewasa apalagi jika sudah menjadi orang tua, orientasi dari rekreasi tersebut adalah untuk menghilangkan kepenatan setelah lama bekerja. Rekreasi bisa berupa berbincang-bincang, bertamasya, berolahraga, hiburan, atau sekedar menyalurkan hobi.
3. Minat Sosial
Seperti telah dijelaskan di awal bahwa masa dewasa dini adalah masa keterasingan sosial dimana seseorang (suami/isteri) akan merasa sepi karena mereka kehilangan masa pergaulan yang menyenangkan ketika remaja. Umumnya pergaulan dan kegiatan mereka lebih terpusat pada keluarga. Peran anggota keluarga menggantikan peran teman. Mereka harus bisa mencari penyelesaiannya dan berupaya untuk menjalin tali persahabatan baru dengan lingkungan barunya.
Namun pada akhir tigapuluhan atau pertengahan empatpuluhan, mereka sudah mempunyai banyak teman karean umumnya minat social mereka sudah berkembang dan stabil. Pada masa dewasa, minat pribadi akan semakin berkurang dan minat sosial akan semakin bertambah.



B. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Minat Keagamaan Dewasa Dini
Biasanya, sesudah orang menjadi dewasa ia telah dapat mengatasi keragu-raguan di bidang kepercayaan atau agamanya, yang mengganggunya pada masa waktu ia masih remaja. Setelah menjadi dewasa ia biasanya sudah mempunyai suatu pandangan hidup, yang didasarkan pada agama, yang memberi kepuassan baginya.  Atau dapat terjadi bahwa orang meniggalkan agama yang dianut keluarga, karena agama itu tidak memberi kepuasan baginya. Bagaimanapun juga, orang dewasa muda tampaknya kurang memperhatikan masalah agama dibandingkan dengan sewaktu mereka masih lebih muda dahulu. Itulah sebabnya mengapa Peacock menamakan periode usia duapuluhan ini sebagai “periode dalam kehidupan yang paling tidak religius”. Sikap kurang meminati agama ini tampak pada jarangnya orang pergi ke gereja, atau sikap acuh terhadap tempat ibadat (Hurlock, 1980).
            Apabila seseorang sudah berkeluarga, umumnya ia kembali kepada agama, atau setidak-tidaknya ia tampak menaruh cukup perhatian. Orangtua dengan anak – anak kecil, sering merasa bahwa mengajarkan agama yang dianut kepadda anak – anaknya. Oleh sebab itu, orangtua berupaya membiasakan diri lagi untuk beribadat serta melaksanakan praktek – praktek agama sebagaimana dulu dilaksanakan di rumah orangtua, meski ada modifikasi di sana – sini agar sesuai dengan pola hidup kemajuan zaman sekarang. Bersembahyang atau hadir di gereja secara teratur merupakan bagian dari kehidupan sebagai orang tua, dan ikut serta dalam kegiatan – kegiatan organisasi agama. Namun hal ini tidak harus diartikan bahwa orang sedang mengalami suatu periode kebangkitan religius atau pertobatan atau mendadak menjadi saleh seperti sering terjadi pada masa remaja awal (Hurlock, 1980)
            Banyak faktor yang ikut menentukan kuat tidaknya rasa keagamaan orang – orang muda dan perwujudan minat pada agama ini (Hurlock, 1980):
1. Jenis Kelamin
Wanita cenderung lebih berminat pada agama daripada pria dan juga lebih banyak terlibat aktif dalam ibadat dan kegiatan – kegiatan kelompok agama.
2. Kelas Sosial
Golongan kelas menengah sebagai kelompok, lebih tertarik agama dibandingkan golongan kelas lebih tinggi atau yang lebih rendah; orang lebih banyak ambil bagian dalam kegiatan gereja dan banyak yang duduk dalam kepengurusan organisasi kegamaan. Orang – orang dewasa yang ingin terpandang dalam masyarakat lebih giat dalam organisai – organisasi keagamaan dibadingkan dengan orang – orang yang sudah puas dengan status mereka.
3. Lokasi Tempat Tinggal
Orang – orang dewasa yang tinggal di perdeasaan dan di pinggir kota menunjukkan minat yang lebih besar pada agama daripada orang yang tinggal di kota.
4. Latar Belakang Keluarga
Orang – orang dewasa yang dibesarkan dalam keluarga yang erat beragama dan menjadi anggota suatu gereja cenderung lebih tertarik pada agama daripada orang – orang yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang peduli pada agama.
5. Minat Religius Teman – Teman
Orang dewasa dini lebih memperhatikan hal – hal keagamaan jika tetangga – tetangga dan teman – temannya aktif dalam organisasi – organisasi keagamaan daripada apabila teman – temannya yang kurang peduli.
6. Pasangan dan Iman yang Berbeda
Pasangan yang berbeda agama cenderung kurang aktif dalam urusan agama daripada suami isteri yang menganut agama yang sama.
7. Kecemasan akan Kematian
Orang – orang dewasa yang cemas akan kematian atau mereka yang sangat memikirkan hal kematian cenderung lebi memperhatikan agama daripada orang yang bersikap lebih realistik.
8. Pola Kepribadian
Semakin otoriter pola kepribadian seseorang, semakin banyak perhatiannya pada agama seseorang dan semakin kaku sikapnya terhadap agama – agama lainnya. Sebaliknya, orang yang memiliki pribadi yang berpandangan seimbang lebih luwes terhadap agama – agama lain dan biasanya lebih aktif dalam kegiatan agamanya.


C. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Sosial Pada Masa Dewasa Dini.
Partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi patisipasi sosial pada masa dewasa dini antara lain (Hurlock, 1980) :
a. Mobilitas Sosial
Merupakan perpindahan dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial yang lain. Ini bisa terjdi secara horisontal yaitu berpindah ke kelompok sosial yang lain pada tingkat yang sama, atau secara vertikal yaitu berpindah pada kelompok sosial yang lebih tinggi.
Semakin besar keinginan orang dewasa muda untuk meningkatkan status sosialnya semakin giat pula ia berusaha melibatkan diri dengan organisasi-organisasi masyarakat yang akan membantunya untuk naik jenjang sosial yang lebih tinggi.
b. Status Sosio-ekonomi
Apakah sudah berumah tangga atau belum orang dewasa muda yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik akan lebih mampu berperan dalam berbagai kegiatan sosial terutama kegiatan di luar rumah, dibandingkan dengan orang yang mempunyai status sosial yang kurang baik.
c. Lamanya Tinggal di Suatu Kelompok Masyarakat
Banyak orang dewasa muda yang harus pindah ke suatu lingkungan baru berpartisipasi aktif dalam organisasi masyarakat sebagai cara untuk bertemu dengan masyarakat dan menemukan teman.

d. Kelas Sosial
Orang dewasa muda kelas tinggi dan menengah lebih sering aktif dalam organisasi masyarakat daripada mereka dari golongan masyarakat bawah. Disamping itu mereka juga lebih banyak duduk dalam kepemimpinan organisasi tersebut. Disamping itu mereka juga mempunyai lebih banyak teman akrab, lebih sering menjamu dan lebih banyak berkunjung, tetapi kurang menghabiskan waktu dengan sanak saudara dibandingkan dengan anggota-anggota kelas bawah.
e. Lingkungan
Kehidupan sosial orang dewasa muda yang tinggal di kota besar mungkin lebih banyak dipusatkan pada keluarga dan sanak saudara dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota kecil dan di pedesaan yang lebih mengenal keramahtamahan dan keakraban antar tetangga.
f. Jenis Kelamin
Pria yang yang telah menikah lebih bebas berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial di luar rumah dibandingkan dengan wanita yang telah menikah yang sering harus membatsi kegiatan-kegiatan sosial mereka pada lingkungan rumah dan rukun tetangga – wanita yang belum menikah, sebaliknya sering lebih aktif dalam kegiatan masyarakat dibandingkan wanita yang masih lajang.
g. Umur Kematangan Seksual
Pria yang lebih cepat dewasa lebih aktif dalam dalam kegiatan masyarakat dan duduk dalam keoengurusan organisasi-organisasi masyarakat dibandingkan dengan pria yang terlambat dewasa. Wanita yang cepat dewasa tetap aktif dibidang sosial apabila keadaan memungkinkan.
h. Urutan Kelahiran
Anak pertama, sering memiliki perasaan tidak aman, dan sesudah dewasa cenderung menjadi “pengikut” dan lebih aktif  dalam kegiatan-kegiatan masyarakat daripada anak-anak yang lahir belakangan.
i. Keanggotaan Keagamaan
Orang-orang yang merupakan anggota keagamaan cenderung lebih aktif dalam kegiatan keagamaan dan organisasi-organisasi masyaraat lainnya dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki hubungan dengan keagamaan.
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi untuk memiliki hidup yang lebih kreatif.
Kreativitas dimiliki oleh setiap orang meskipun dalam derajat dan bentuk yang berbeda. Kreativitas harus dipupuk dan ditingkatkan karena jika dibiarkan saja maka tidak akan berkembang bahkan bisa terpendam dan tidak dapat terwujud.
Tumbuh dan berkembangnya kreasi diciptakan oleh individu, dipengaruhi oleh kebudayaan serta dari masyarakat dimana individu itu hidup dan bekerja. Tumbuh dan berkembangnya kreativitas dipengaruhi pula oleh banyak faktor terutama adalah karakter yang kuat, kecerdasan yang cukup dan lingkungan kultural yang mendukung.
Munandar (2009) menyebutkan bahwa perkembangan kreativitas dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
a. Faktor internal.
Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhi kreativitas, diantaranya :
1.      Keterbukaan terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dalam individu. Keterbukaan terhadap pengalaman adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan demikian individu kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan
2.      Evaluasi internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan dan kritikan dari orang lain.
3.      Kemampuan untuk bermaian dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
b. Faktor eksternal (Lingkungan).
Faktor eksternal (lingkungan) yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberi kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat. Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang memupuk dan mengembangkan kreativitas dalam masyarakat, antara lain :
1. Tersedianya sarana kebudayaan, misal ada peralatan, bahan dan media.
2. Adanya keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan bagi semua lapisan masyarakat.
3. Menekankan pada becoming dan tidak hanya being, artinya tidak menekankan pada kepentingan untuk masa sekarang melainkan berorientasi pada masa mendatang.
4. Memberi kebebasan terhadap semua warga negara tanpa diskriminasi, terutama jenis kelamin.
5. Adanya kebebasan setelah pengalamn tekanan dan tindakan keras, artinya setelah kemerdekaan diperoleh dan kebebasan dapat dinikmati.
6. Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda.
7. Adanya toleransi terhadap pandangan yang berbeda.
8. Adanya interaksi antara individu yang berhasil.
9. Adanya insentif dan penghargaan bagi hasil karya kreatif. Sedangkan lingkungan dalam arti sempit yaitu keluarga dan lembaga pendidikan.
Di dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang otoritas, sehingga peranannya sangat menentukan pembentukan krativitas anak. Lingkungan pendidikan cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir anak didik untuk menghasilkan produk kreativitas, yaitu berasal dari pendidik.


















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Masa dewasa dini adalah masa terpanjang setelah masa kanak-kanak dan masa remaja. Masa ini adalah masa dimana seseorang harus melepaskan ketergantungannya dari orang tua dan mulai belajar madiri karena ia sudah mempunyai peran dan tugas-tugasnya yang baru.
Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa dini jika tidak dioptimalkan dengan baik akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di masa yang akan datang. Perubahan minat, mobilitas sosial, dan penyesuaian peran seks pada masa ini juga sangat berpengaruh bagi tiap individu.
Bahaya personal dan sosial sering diakibatkan oleh ketidak matangan seseorang pada masa ini yang ditandai dengan kegagalannya dalam menjalankan tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa dini.

B. Saran
Masa dewasa yang dipenuhi dengan tanggung jawab dan konsekuensi hidup, maka kita harus benar-benar menjadi sosok seorang dewasa yang dewasa. Tidak ada manusia dewasa yang paling dewasa, yang paling hebat, paling mandiri dan paling sukses, karena tugas perkembangan manusia berjalan sepanjang kehidupan, mereka yang mampu belajar dan terus berusaha memperbaiki diri akan dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

Danio, Agoes. 2003. Psikologi perkembangan dewasa muda. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.Edisi kelima
Munandar, S.C.U. (2009).  Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta: PT Rineka Cipta dan Dep. Pendidikan dan Kebudayaan.