BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setelah
mengalami masa kanak-kanak dan remaja yang panjang, seorang individu akan
mengalami masa dimana ia telah menyelesaikan pertumbuhannya dan mengharuskan
dirinya untuk berkecimpung dengan masyarakat bersama dengan orang dewasa
lainnya. Dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, masa dewasa adalah waktu
yang paling lama dalam rentang hidup yang ditandai dengan pembagiannya menjadi
3 fase yaitu; masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut (usia
lanjut).
Masa
dewasa dini biasanya dimulai sejak usia 18 tahun sampai dengan kira-kira usia
40 tahun dan biasanya ditandai dengan selesainya pertumbuhan pubertas dan organ
kelamin anak telah berkembang dan mampu berproduksi. Pada masa ini, individu akan
mengalami perubahan fisik dan psikologis tertentu bersamaan dengan
masalah-masalah penyesuaian diri dan harapan-harapan terhadap perubahan
tersebut.
B. Rumusan Masalah
Untuk
memudahkan pembahasan, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang dipaparkan
dalam makalah ini.
1.
Bagaimana kondisi yang mempengaruhi perubahan minat dewasa dini?
2.
Apa faktor – faktor yang mempengaruhi minat keagamaan dewasa dini?
3.
Apa faktor – faktor yang mempengaruhi partisipasi sosial pada dewasa dini?
4.
Apa faktor – faktor yang mempengaruhi strategi untuk memiliki hidup yang lebih
kreatif?
C. Tujuan
` Berdasarkan latar belakang dan
rumusan masalah tersebut di atas,maka tujuan makalah ini yaitu :
1.
Untuk mengetahui bagaimana kondisi yang mempengaruhi perubahan minat dewasa
dini.
2.
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi minat keagamaan dewasa dini.
3.
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi partisipasi sosial pada
dewasa dini.
4.
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi strategi untuk memiliki
hidup yang lebih kreatif.
D. Manfaat
Berdasarkan
latar belakang, rumusan masalah dan tujuan tersebut di atas, maka tujuan
makalah ini yaitu :
1.
Untuk menambah wawasan bagi kita sebagai calon psikolog.
2.
Dapat mengetahui keadaan psikologi masa dewasa.
3.
Dapat meningkatkan kepribadian sebagai remaja yang mulai memasuki masa dewasa.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Perubahan Minat Pada Masa Dewasa
Dini
Seiring
dengan bertambahnya tugas dan tanggungjawab yang harus diemban seseorang ketika
ia sudah menginjak masa dewasa dini, seseorang akan mengalami pergeseran bahkan
pengurangan bobot minat/keinginan terhadap sesuatu. Hal ini disebabkan karena
minat yang sudah ada pada dirinya sejak masa kanak-kanak atau remaja terkadang
sudah tidak sesuai lagi dengan perannya sebagai orang dewasa selain itu juga
bisa disebabkan oleh minat yang tidak lagi memberi kepuasan seperti semula
(Danio, 2003).
Masa
dewasa dini tidak selalu menghilangkan minat seseorang tetapi juga dapat
membuat bobot pada minat yang dimiliki seseorang bergeser. Ketika usia
bertambah, orang biasanya tidak memperoleh minat baru kecuali bila ia
mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan minat itu (Danio, 2003)
Kondisi
– kondisi yang Mempengaruhi Perubahan Minat Pada Dewasa Dini
Terdapat
berbagai macam kondisi yang mempengaruhi Minat pada Dewasa Dini (Hurock, 1980);
1. Perubahan dalam
kondisi kesehatan
Menjelang
usia setengah baya, umumnya orang merasa bahwa kekuatan dan daya tahannya tidak
lagi seperti semula. Oleh sebab itu mereka bergeser pada minat – minat yang
tidak begitu memerlukan kekuatan dan daya tahan, terutama dalam rekreasi
mereka.
2. Perubahan dalam
Status Ekonomi
Apabila
status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup
hal – hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya, kalau status
ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga atau usaha yang
kurang maju, maka orang cenderung untuk mempersempit minat mereka.
3. Perubahan dalam Pola
Kehidupan
Orang
muda harus meninjau kembali minat – minat lama mereka dari segi waktu, tenaga,
dana dan persahabatan mereka untuk mengetahui apakah hal – hal ini sesuai
dengan pola – pola kehidupan mereka yang baru atau apakah hal – hal itu masih
memberikan kepuasan seperti dulu.
4. Perubahan dalam
Nilai
Nilai
– nilai yang diperoleh seseorang mempengaruhi minat yang sudah ada atau dapat menumbuhkan
minat baru.
5. Perubahan dalam Seks
Pola
kehidupan wanita dewasa sangat berbeda dengan pola kehidupan pria dewasa. Oleh
sebab itu perbedaan minat berdasarkan seks menjadi semakin besar dibandingkan
pada masa remaja.
6. Perubahan dari
Status Belum Menikah ke Status Menikah
Karena
pola kehidupan yang berbeda, orang – orang yang tidak menikah mempunyai minat
yang berbeda dari mereka yang menikah yang sama usianya.
7. Menjadi Orang Tua
Pada
waktu orang – orang muda itu menjadi orangtua, mereka umumnya tidak mempunyai
waktu, uang atau tenaga untuk tetap melanjutkan minat mereka. Minat mereka
berubah. Orientasi kehidupan keluarga menggantikan orientasi pada diri. Apakah
mereka nanti akan meneruskan lagi minat – minat lama mereka sesudah mereka tidak
perlu lagi berperan sebagai orangtua sebagian besar kehilangan kesempatan
mengembangkan minat ini dan sebagian pada kondisi umum kehidupan mereka.
8. Perubahan Kesenangan
Apa
yang disenangi dan tidak disenangi sangat mempengaruhi minat seseorang dan akan
menjadi lebih kuat dengan bertambahnya usia dan ini menyebabkan minat yang
mentap setelah ia dewasa.
9. Perubahan dalam
Tekanan – tekanan Budaya dan Lingkungan
Pada
tiap tahapan umur, minat seseorang dipengaruhi oleh tekanan – tekanan dari
kelompok sosialnya. Jika nilai – nilai kelompok sosialnya berubah, minat juga
akan berubah.
Perubahan minat biasanya terjadi amat cepat pada masa
remaja, seperti perubahan – perubahan fisik dan psikologis. Apabila perubahan
fisik dan psikologis ini berkurang, perubahan minat maka juga akan berkurang.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Strong bertahun – tahun yang lalu, “Bagaimana
seseorang pada usia dua puluh lima tahun itu sudah menunjukkan perkembangan
besok dan bahkan pada usia dua puluh tahun ia telah memiliki minat – minat yang
akan dibawanya sepanjang hidupnya.” (Hurlock, 1980)
Pergeseran minat yang merupakan ciri masa dewasa dini
adalah berkurangnya berbagai minat. Pada remaja lebih cenderung mengurangi
jenis minatnya daripada mengubah dengan minat yang baru (Hurlock, 1980)
Selain itu perubahan kewajiban dan tanggung jawab tidak
lalu menyebabkan minat juga ikut berubah, melainkan hanya terdapat pergeseran
bobot pada minat yang ada. Orang biasanya tidak memperoleh minat baru jika ia
bertambah tua, kecuali jika lingkungannya berubah sama sekali atau apabila ia
memperoleh kesempatan untuk mengemban minat baru disamping adanya keinginan
yang kuat untuk mengembangkan minat baru (Hurlock, 1980)
Meskipun variasi minat pada orang dewasa muda sangat
luas, beberapa jenis minat tertentu dapat dianggap sebagai ciri orang dewasa
muda dalam kebudayaan Amerika masa kini. Jenis minat ini dapat dibagi dalam
tiga kategori, yaitu minat pribadi, minat rekreasional, dan minat sosial
(Danio, 2003)
1.
Minat Pribadi; meliputi penampilan, pakaian & perhiasan, status, simbol
kedewasaan, uang dan agama.
Ketika
sudah dewasa banyak terjadi perubahan penampilan yang dialami seseorang seiring
dengan perubahan fisiknya. Ia mulai bisa memanfaatkan penampilan tersebut dan
berusaha untuk memperbaiki penampilan. Hal ini dikarenakan kesadaran bahwa
penampilan yang menarik adalah potensi besar dalam meningkatkan pergaulan.
Minat untuk meningkatkan penampilan mulai berkurang menjelang umur 30-an ketika
ketegangan dalam pekerjaan dan rumah tangga terasa kuat. Walaupun usia semakin
bertambah namun minat terhadap pakaian dan perhiasan juga ikut bertambah. Hal
ini berhubungan dengan prestise dan nilai seseorang dalam pergaulan.
Status
adalah tanda-tanda tertentu yang membedakan seseorang dengan orang lain. Symbol
status dapat berupa mobil, rumah dan harta benda lainnya yang dapat
mempengaruhi tinggi rendahnya status seseorang dan dipandang sebagai bukti
keberhasilan ekonomi. Orang dewasa dini biasanya berusaha menaikkan statusnya
dengan cara memiliki simbol-simbol status seperti yang diterangkan di atas.
Orang-orang
dewasa beranggapan bahwa uang dapat memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Maka ia
akan berusaha untuk memiliki banyak uang.
2.
Minat Rekreasional;
Pada
masa remaja bahkan kanak-kanak, orang berekreasi hanya sekedar ikut-ikutan atau
diajak orang lain/keluarga dan hanya berfungsi untuk bermain. Namun pada masa
dewasa apalagi jika sudah menjadi orang tua, orientasi dari rekreasi tersebut
adalah untuk menghilangkan kepenatan setelah lama bekerja. Rekreasi bisa berupa
berbincang-bincang, bertamasya, berolahraga, hiburan, atau sekedar menyalurkan
hobi.
3.
Minat Sosial
Seperti
telah dijelaskan di awal bahwa masa dewasa dini adalah masa keterasingan sosial
dimana seseorang (suami/isteri) akan merasa sepi karena mereka kehilangan masa
pergaulan yang menyenangkan ketika remaja. Umumnya pergaulan dan kegiatan
mereka lebih terpusat pada keluarga. Peran anggota keluarga menggantikan peran
teman. Mereka harus bisa mencari penyelesaiannya dan berupaya untuk menjalin
tali persahabatan baru dengan lingkungan barunya.
Namun
pada akhir tigapuluhan atau pertengahan empatpuluhan, mereka sudah mempunyai
banyak teman karean umumnya minat social mereka sudah berkembang dan stabil. Pada
masa dewasa, minat pribadi akan semakin berkurang dan minat sosial akan semakin
bertambah.
B.
Faktor – faktor yang Mempengaruhi Minat Keagamaan Dewasa Dini
Biasanya,
sesudah orang menjadi dewasa ia telah dapat mengatasi keragu-raguan di bidang
kepercayaan atau agamanya, yang mengganggunya pada masa waktu ia masih remaja.
Setelah menjadi dewasa ia biasanya sudah mempunyai suatu pandangan hidup, yang
didasarkan pada agama, yang memberi kepuassan baginya. Atau dapat terjadi bahwa orang meniggalkan
agama yang dianut keluarga, karena agama itu tidak memberi kepuasan baginya.
Bagaimanapun juga, orang dewasa muda tampaknya kurang memperhatikan masalah
agama dibandingkan dengan sewaktu mereka masih lebih muda dahulu. Itulah
sebabnya mengapa Peacock menamakan periode usia duapuluhan ini sebagai “periode
dalam kehidupan yang paling tidak religius”. Sikap kurang meminati agama ini
tampak pada jarangnya orang pergi ke gereja, atau sikap acuh terhadap tempat
ibadat (Hurlock, 1980).
Apabila seseorang sudah berkeluarga, umumnya ia kembali
kepada agama, atau setidak-tidaknya ia tampak menaruh cukup perhatian. Orangtua
dengan anak – anak kecil, sering merasa bahwa mengajarkan agama yang dianut
kepadda anak – anaknya. Oleh sebab itu, orangtua berupaya membiasakan diri lagi
untuk beribadat serta melaksanakan praktek – praktek agama sebagaimana dulu
dilaksanakan di rumah orangtua, meski ada modifikasi di sana – sini agar sesuai
dengan pola hidup kemajuan zaman sekarang. Bersembahyang atau hadir di gereja
secara teratur merupakan bagian dari kehidupan sebagai orang tua, dan ikut
serta dalam kegiatan – kegiatan organisasi agama. Namun hal ini tidak harus
diartikan bahwa orang sedang mengalami suatu periode kebangkitan religius atau
pertobatan atau mendadak menjadi saleh seperti sering terjadi pada masa remaja
awal (Hurlock, 1980)
Banyak faktor yang ikut menentukan kuat tidaknya rasa
keagamaan orang – orang muda dan perwujudan minat pada agama ini (Hurlock,
1980):
1. Jenis Kelamin
Wanita
cenderung lebih berminat pada agama daripada pria dan juga lebih banyak
terlibat aktif dalam ibadat dan kegiatan – kegiatan kelompok agama.
2. Kelas Sosial
Golongan
kelas menengah sebagai kelompok, lebih tertarik agama dibandingkan golongan
kelas lebih tinggi atau yang lebih rendah; orang lebih banyak ambil bagian
dalam kegiatan gereja dan banyak yang duduk dalam kepengurusan organisasi
kegamaan. Orang – orang dewasa yang ingin terpandang dalam masyarakat lebih
giat dalam organisai – organisasi keagamaan dibadingkan dengan orang – orang
yang sudah puas dengan status mereka.
3. Lokasi Tempat
Tinggal
Orang
– orang dewasa yang tinggal di perdeasaan dan di pinggir kota menunjukkan minat
yang lebih besar pada agama daripada orang yang tinggal di kota.
4. Latar Belakang
Keluarga
Orang
– orang dewasa yang dibesarkan dalam keluarga yang erat beragama dan menjadi
anggota suatu gereja cenderung lebih tertarik pada agama daripada orang – orang
yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang peduli pada agama.
5. Minat Religius Teman
– Teman
Orang
dewasa dini lebih memperhatikan hal – hal keagamaan jika tetangga – tetangga
dan teman – temannya aktif dalam organisasi – organisasi keagamaan daripada
apabila teman – temannya yang kurang peduli.
6. Pasangan dan Iman
yang Berbeda
Pasangan
yang berbeda agama cenderung kurang aktif dalam urusan agama daripada suami
isteri yang menganut agama yang sama.
7. Kecemasan akan
Kematian
Orang
– orang dewasa yang cemas akan kematian atau mereka yang sangat memikirkan hal
kematian cenderung lebi memperhatikan agama daripada orang yang bersikap lebih
realistik.
8. Pola Kepribadian
Semakin
otoriter pola kepribadian seseorang, semakin banyak perhatiannya pada agama
seseorang dan semakin kaku sikapnya terhadap agama – agama lainnya. Sebaliknya,
orang yang memiliki pribadi yang berpandangan seimbang lebih luwes terhadap
agama – agama lain dan biasanya lebih aktif dalam kegiatan agamanya.
C. Faktor-
faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Sosial Pada Masa Dewasa Dini.
Partisipasi
merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga
masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Keikutsertaan atau keterlibatan yang
dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh
yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepat diartikan
sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil
bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.
Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi patisipasi sosial pada masa dewasa dini antara
lain (Hurlock, 1980) :
a. Mobilitas Sosial
Merupakan
perpindahan dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial yang lain. Ini bisa
terjdi secara horisontal yaitu berpindah ke kelompok sosial yang lain pada
tingkat yang sama, atau secara vertikal yaitu berpindah pada kelompok sosial
yang lebih tinggi.
Semakin
besar keinginan orang dewasa muda untuk meningkatkan status sosialnya semakin
giat pula ia berusaha melibatkan diri dengan organisasi-organisasi masyarakat
yang akan membantunya untuk naik jenjang sosial yang lebih tinggi.
b. Status Sosio-ekonomi
Apakah
sudah berumah tangga atau belum orang dewasa muda yang mempunyai status sosial
ekonomi yang baik akan lebih mampu berperan dalam berbagai kegiatan sosial
terutama kegiatan di luar rumah, dibandingkan dengan orang yang mempunyai
status sosial yang kurang baik.
c. Lamanya Tinggal di Suatu Kelompok
Masyarakat
Banyak
orang dewasa muda yang harus pindah ke suatu lingkungan baru berpartisipasi
aktif dalam organisasi masyarakat sebagai cara untuk bertemu dengan masyarakat
dan menemukan teman.
d. Kelas Sosial
Orang
dewasa muda kelas tinggi dan menengah lebih sering aktif dalam organisasi
masyarakat daripada mereka dari golongan masyarakat bawah. Disamping itu mereka
juga lebih
banyak duduk dalam kepemimpinan organisasi tersebut.
Disamping itu mereka juga mempunyai lebih banyak teman akrab, lebih sering
menjamu dan lebih banyak berkunjung, tetapi kurang menghabiskan waktu dengan
sanak saudara dibandingkan dengan anggota-anggota kelas bawah.
e. Lingkungan
Kehidupan
sosial orang dewasa muda yang tinggal di kota besar mungkin lebih banyak
dipusatkan pada keluarga dan sanak saudara dibandingkan dengan mereka yang
hidup di kota kecil dan di pedesaan yang lebih mengenal keramahtamahan dan
keakraban antar tetangga.
f. Jenis Kelamin
Pria
yang yang telah menikah lebih bebas berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial
di luar rumah dibandingkan dengan wanita yang telah menikah yang sering harus
membatsi kegiatan-kegiatan sosial mereka pada lingkungan rumah dan rukun
tetangga – wanita yang belum menikah, sebaliknya sering lebih aktif dalam
kegiatan masyarakat dibandingkan wanita yang masih lajang.
g. Umur Kematangan Seksual
Pria
yang lebih cepat dewasa lebih aktif dalam dalam kegiatan masyarakat dan duduk
dalam keoengurusan organisasi-organisasi masyarakat dibandingkan dengan pria
yang terlambat dewasa. Wanita yang cepat dewasa tetap aktif dibidang sosial
apabila keadaan memungkinkan.
h. Urutan Kelahiran
Anak
pertama, sering memiliki perasaan tidak aman, dan sesudah dewasa cenderung
menjadi “pengikut” dan lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan
masyarakat daripada anak-anak yang lahir belakangan.
i. Keanggotaan
Keagamaan
Orang-orang
yang merupakan anggota keagamaan cenderung lebih aktif dalam kegiatan keagamaan
dan organisasi-organisasi masyaraat lainnya dibandingkan dengan mereka yang
tidak memiliki hubungan dengan keagamaan.
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi
strategi untuk memiliki hidup yang lebih kreatif.
Kreativitas
dimiliki oleh setiap orang meskipun dalam derajat dan bentuk yang berbeda.
Kreativitas harus dipupuk dan ditingkatkan karena jika dibiarkan saja maka
tidak akan berkembang bahkan bisa terpendam dan tidak dapat terwujud.
Tumbuh dan
berkembangnya kreasi diciptakan oleh individu, dipengaruhi oleh kebudayaan
serta dari masyarakat dimana individu itu hidup dan bekerja. Tumbuh dan
berkembangnya kreativitas dipengaruhi pula oleh banyak faktor terutama adalah
karakter yang kuat, kecerdasan yang cukup dan lingkungan kultural yang
mendukung.
a. Faktor internal.
Faktor
internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhi
kreativitas, diantaranya :
1. Keterbukaan
terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dalam individu. Keterbukaan
terhadap pengalaman adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari
pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa
kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan demikian individu
kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan
2. Evaluasi
internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan
seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari
orang lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan
dan kritikan dari orang lain.
3. Kemampuan
untuk bermaian dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk,
konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
b. Faktor eksternal (Lingkungan).
Faktor
eksternal (lingkungan) yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah
lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran
kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat
dan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu
memberi kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki
anggota masyarakat. Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang memupuk dan
mengembangkan kreativitas dalam masyarakat, antara lain :
1. Tersedianya
sarana kebudayaan, misal ada peralatan, bahan dan media.
2. Adanya
keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan bagi semua lapisan masyarakat.
3. Menekankan
pada becoming dan
tidak hanya being, artinya tidak menekankan pada kepentingan
untuk masa sekarang melainkan berorientasi pada masa mendatang.
4. Memberi
kebebasan terhadap semua warga negara tanpa diskriminasi, terutama jenis
kelamin.
5. Adanya
kebebasan setelah pengalamn tekanan dan tindakan keras, artinya setelah
kemerdekaan diperoleh dan kebebasan dapat dinikmati.
6. Keterbukaan
terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda.
7. Adanya
toleransi terhadap pandangan yang berbeda.
8. Adanya
interaksi antara individu yang berhasil.
9. Adanya
insentif dan penghargaan bagi hasil karya kreatif. Sedangkan lingkungan dalam
arti sempit yaitu keluarga dan lembaga pendidikan.
Di
dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang otoritas, sehingga
peranannya sangat menentukan pembentukan krativitas anak. Lingkungan pendidikan
cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir anak didik untuk
menghasilkan produk kreativitas, yaitu berasal dari pendidik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa
dewasa dini adalah masa terpanjang setelah masa kanak-kanak dan masa remaja.
Masa ini adalah masa dimana seseorang harus melepaskan ketergantungannya dari
orang tua dan mulai belajar madiri karena ia sudah mempunyai peran dan
tugas-tugasnya yang baru.
Tugas-tugas
perkembangan pada masa dewasa dini jika tidak dioptimalkan dengan baik akan
menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di masa yang akan datang. Perubahan
minat, mobilitas sosial, dan penyesuaian peran seks pada masa ini juga sangat
berpengaruh bagi tiap individu.
Bahaya
personal dan sosial sering diakibatkan oleh ketidak matangan seseorang pada
masa ini yang ditandai dengan kegagalannya dalam menjalankan tugas-tugas
perkembangan pada masa dewasa dini.
B. Saran
Masa
dewasa yang dipenuhi dengan tanggung jawab dan konsekuensi hidup, maka kita
harus benar-benar menjadi sosok seorang dewasa yang dewasa. Tidak ada manusia
dewasa yang paling dewasa, yang paling hebat, paling mandiri dan paling sukses,
karena tugas perkembangan manusia berjalan sepanjang kehidupan, mereka yang
mampu belajar dan terus berusaha memperbaiki diri akan dapat senantiasa
menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Danio,
Agoes. 2003. Psikologi perkembangan dewasa muda. Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan :
Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.Edisi
kelima
Munandar, S.C.U. (2009). Pengembangan kreativitas
anak berbakat. Jakarta: PT Rineka Cipta dan Dep. Pendidikan dan Kebudayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar