Kamis, 17 Desember 2015

Konsep Dasar Psikologi Agama

BAB I
Pendahuluan


1. Latar Belakang Masalah
Manusia tampil di muka bumi ini sebagai homo religius yang mempunyai makna bahwa ia memiliki sifat – sifat religius. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang paling dasar, manusia mempunyai dorongan dan kekuatan guna mendapatkan keamanan hidup dan pemenuhan kebutuhan di bidang keagamaan.
Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang spesifik, baik di lihat dari segi fisik maupun non fisiknya. Di tinjau dari segi fisik, tidak ada makhluk lain yang memiliki tubuh sesempurna manusia. Sementara dari segi nonfisik manusia memiliki struktur ruhani yang sangat membedakan dengan makhluk lain.
Jasmani atau fisik manusia dikaji dan di teliti oleh disiplin ilmu anatomi, biologi, ilmu kedokteran maupun ilmu – ilmu lainnya, sedangkan jiwa manusia di pelajari secara khusus oleh psikologi.
Dalam perkembangan selanjutnya, para ahli melihat bahwa psikologi memiliki keterkaitan dengan masalah – masalah yang menyangkut kehidupan batin manusia ytang dalam, yaitu agama. Para ahli kemudian memunculkan studi kasus tentang hubungan antara kesadaran agama dan tingkah laku. [1] Lebih jauh dijelaskan bahwa hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat erat. Biasanya orang – orang yang mengerti tentang agama dan rajin melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari, moralnya dapat di pertanggungjawabkan. Sebaliknya, orang yang akhlaknya merosot, biasanya keyakinan terhadap agamanya kurang atau tidak ada sama sekali. [2]


2. Rumusan Masalah
a. Definisi Psikologi Agama?
b. Objek Kajian Psikologi Agama?
c. Ruang Lingkup dan kegunaannya?
d. Psikologi agama dan pendidikan islam?
e. Manfaat dan Tujuan Mmempelajari Psikologi Agama?



3. Tujuan
a. untuk mengetahui definisi dari psikologi agama
b. untuk mengetahui objek kajian dari psikologi agama
c. untuk mengetahui ruang lingkup dan kegunaan psikologi agama
d. untuk mengetahui hubungan psikologi agama dan pendidikan islam




























BAB II
Pembahasan
1. Definisi Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio yang dapat berarti obligation / kewajiban agama. Dalam Encyclopedia of Philosophy, definisi agama menurut James Martineau adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia. Menurut Edward Craid, agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu. Menurut F.H. Bradley, agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita. Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan. [3].
Makna agama menurut Robert H. Thouless menimbulkan kontroversi yang sering lebih besar dari pada arti penting permasalahannya. Thoules mengutip beberapa pendapat para ahli dalam mengartikan agama. F.W.H. Myles mendefinisikan agama sebagai tanggapan yang sadar dan normal dari jiwa manusia terhadap hukum alam. Sementara menurut J.H leuba dalam bukunya yang berbicara tentang psikologi agama memasukkan lampiran yang berisi tentang 48 definisi agama yang di berikan menurut beberapa ahli.[4]
Definisi yang di berikan oleh J.H. Leuba menunjukkan agama sebagai cara bertingkah laku, sebagai sistem kepercyaan atau sebagai emosi yang bercorak khusus. Sementara Thouless mengemukakan definisi agama sebagai hubungan praktis yang dirasakan dengan apa yang di percayai sebagai makhluk atau sebagai wujud yang lebih tinggi dari manusia. [5]
Menurut Vergulius Ferm, beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentatif dan tidak lengkap pada apapun yang di tanggapi atau secara implisit atau eksplisit di anggap layak di perhatikan secara serius dan sungguh – sungguh. [6]
Menurut Oxford, agama menghadirkan manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang di sebut Tuhan atau para dewa – dewa untuk patuh menyembahnya. Sedangkan menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berfikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat di pisahkan dai keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi pribadi.
Dengan melihat dari pendapat para ahli tersebut maka dapat di ambil kesimpulan bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berfikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat di pisahka dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalan konstruksi pribadi. [7]
Agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit untuk di ukur secra tepat dan teliti. Secara definitif agama menurut Harun Nasution, agama adalah :
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus di patuhi.
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3. Mengikat diri pada suatu bentuk hudup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia.
4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban – kewajiban yang di yakini bersumber pada sesuatu kekuatan gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8. Ajaran – ajaran di wahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.[8]

Selanjutnya Harun Nasution merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama yaitu:
1. Kekuatan gaib yang di yakini berada di atas kekuatan manusia. Didorong oleh kelemahan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan menjaga dan membina hubungan yang baik dengan kekuatan gaib tersebut. Sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
2. Keyakinan terhadap kekuatan gaib sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
3. Respon yang bersifat emosional dari manusia. Respon ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karena dorongan oleh perasaan takut atau pemujaan yang di dorong oleh perasaan cinta, serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
4. Paham akan adanya yang kudus dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan gaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun tempat – tempat tertentu.[9]
2. Objek Kajian Psikologi Agama
Psikologi agama tidak menyelidiki tentang ajaran – ajaran secara meteriil, dasar – dasar agama dan tidak berwenang untuk membenarkan atau menyalahkan pengertian yang ada dalam agama. Yang menjadi obyek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala – gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduanya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience). [10]
Dengan demikian yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat – akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala – gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya. [11]
Sikap beragama seseorang mengalami proses sesuai dengan perkembangan jiwanya, sehingga psikologi agama di samping mengkaji tingkah laku beragama tertentu juga membahas pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama seseorang. Mengingat proses tersebut banyak hal yang mempengaruhi maka dalam pembahasan berikut di jelaskan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi keyakinan seseorang. [12]
Memang, para ahli berbeda dalam memilih objek kajian. Artinya dari ketiga aspek kajian psikologi agama, tingkah laku beragama, pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama dan faktor – faktor yang mempengaruhi sikap beragama seseorang, para ahli berbeda titik tekannya. William James, lebih memfokuskan penelitiannya pada tingkah laku beragama pada tokoh agama. Sementara Robert H. Thouless banyak mengkaji faktor – faktor yang mempengaruhi keyakinan seseorang. Spilka dan Clark hampir sama kajiannya, di samping membahas perilaku beragama, juga membahas pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama. Pembahasan terakhir ini juga di bahas oleh Al-Malighy dan Zakiah Daradjat. [13]
3. Ruang Lingkup dan Kegunaannya
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingku[ pembahasan tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Lenih lanjut, Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Oleh karena itu menurut Zakiah Daradjat ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai :
a. Bermacam – macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa, seperti rasa lega dan tentram sehabis sembahyang, pasrah dan menyerah setelah dzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
b. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan batin.
c. mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap – tiap orang.
d. meneliti dan mempelajari perasaan dan kesadaran orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut berpengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e. Meneliti dan mempelajari begaimana pengaruh pengahayatan seseorang terhadap ayat – ayat suci terhadap kelegaan batinnya.[14]
Semuanya itu menurut Zakiah Daradjat tercakup dalam kesadaran agama dan pengalaman agama. Yang di maksud dengan kesadaran agama adalah bagian segi agama yang hadir dalam pikiran yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama.
Sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliyah).
Hasil kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, industri, antropologi, psikoterapi, dan lainnya. Seperti halnya dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran agama. Pengobatan – pengobatan pasien rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana dilembaga pemasyarakatan banyak dilakukan dengan menggunakan psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembicaraan moral dan mental keagamaan peserta didik. [15]
4. Hubungan Psikologi agama dan Pendidikan Islam
Pendidikan islam disini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakekat kejadiannya. Jadi dalam pengertian ini, pendidikan islam tidak dibatasi oleh institusi kelembagaan ataupun pada lapangan pendidikan tertentu. Pendidikan islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas.
Pendekatan psikologi agama dalam pendidikan islam ternyata telah dilakukan diperiode awal perkembangan islam itu sendiri. Fungsi dan peran kedua orang tua sebagai teladan yang terdekat dengan anak telah diakui dalam pendidikan islam. Bahkan agama dan keyakinan seseorang anak dinilai sangat tergantung dari keteladanan para orang tua mereka.
Dalam pandangan islam, sejak dilahirkan manusia telah dianugrahkan potensi keberagamaan. Potensi ini baru dalam bentuk sederhana, yaitu berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi ini tidak salah, maka perlu adanya bimbingan dari luar. Secara kodrati orang tua merupakan pembimbing pertama yang  mula – mula dikenal anak. Oleh karena itu Rasulullah menekankan bimbingan itu pada tanggung jawab kedua orang tua. Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrahnya (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Majusi, Yahudi, atau Nasrani, sabda Rasulullah SAW. Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa pengaruh bimbingan ibu bapak memiliki peran yang strategis dalam membentuk jiwa agama pada diri anak. Demikian pentingnya pengaruh bimbingan itu, hingga dikaitkan dengan akidah. Sebab bila dibiarkan berkembang dengan sendirinya, maka potensi keberagamaan anak akan salah arah. Kecenderungan untuk tunduk pada sesuatu, dapat saja di arahkan pada yang salah.
Bimbingan kejiwaan diarahkan pada pembentukan nila- nilai imani sedangkan keteladanan, pemboasaan, dan disiplin dititik beratkan pada pembentukan nilai – nilai imani. Keduanya memiliki hubungan timbal balik. Dengan demikian, kesadaran agama dan pengalaman agama dibentuk melalui proses bimbingan terpadu. Hasil yang diharapkan adalah sosok manusia yang beriman (kesadaran agama) dan beramal saleh (pengalaman beragama). Anak dibimbing untuk tunduk dan mengabdikan diri hanya kepada Allah sesuai dengan fitahnya. Kemudian sebagai pembuktian dari pengabdian itu, direalisasikan dalam bentuk perbuatan dan aktifitas yang bermanfaat sesuai dengan perintahnya. [16]








5. Manfaat Mempelajari Psikologi Agama
Manfaat kita mempelajari psikologi agama yaitu bisa dimanfaatkan dalam lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi dan lapangan lainnya dalam kehidupan. Bahkan sudah sejak lama pemerintah kolonial belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Fnouck Hugronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan belanda di Indonesia.
Di bidang industri psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950an diperusahaan minyak STANFAC (Laju dan Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama islam untuk para pekerjanya.
Kita mempelajari psikologi agama juga merupakan keharusan sebagai umat islam yang sangat meyakini akan kepercayaan kepada ALLAH SWT. Jiwa dan kehendak kita sudah diatur oleh Sang Illahi. Dalam kajiannya psikologi agama menyelidiki tentang ajaran-ajaran secara meteril akan dasar-dasar agama yang menjadi dasar manusia dalam berkeyakinan dan bertindak.
Diantara kegunaan psikologi agama yaitu sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia kaitannya dengan agama yang dianutnya, perasaan keagamaan itu dapat memengaruhi ketentraman batinnya baik konflik itu terjadi pada diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan ajaran agamanya maupun tidak.
Di bidang industri, psikologi juga bisa dimanfaatkan. Misalnya, adanya ceramah agama islam guna menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan.
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Selain itu dalam pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaaan moral dan mental keagamaan manusia.

6. Tujuan Mempelajari Psikologi Agama
Untuk meneliti dan menelaah kehidupan beragama seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta kehidupan pada umumnya. Juga bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang diambil dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan.
BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
a. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia dengan instrumen sikap, respon perilaku yang dapat diamati atau diteliti.
b. Agama dapat diartikan sebagai pengakuan adanya kekuatan adil kodrati Allah SWT, hubungan antara manusia dengan Tuhannya dalam bentuk upacara ritual atau persembahan, yang mengikat berbagai sendi perilaku manusia dalam kesehariannya, sehingga dengannya melahirkan millah (jalan hidup yang lurus) sebagai sistem tingkah laku. Pola hubungan manusia dengan Tuhan tersebut kemudian dapat berwujud sebagai kewajiban, perintah maupun larangan yang dapat diwujudkan dalam sendi kehidupan maupun ritual dan dapat berfungsi sebagai keyakinan hidup sesudah mati.
c. Psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam sikap dan tingkah laku keseharian, baik disadari maupun tidak sadari (habit).
d. Psikologi agama adalah cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing – masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi.
e. Ruang lingkup objek studi psikologi agama adalah :
1. Bermacam – macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa, seperti rasa lega dan tentram sehabis sembahyang, pasrah dan menyerah setelah dzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan batin.
3. mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap – tiap orang.
4. Meneliti dan mempelajari perasaan dan kesadaran orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut berpengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5. Meneliti dan mempelajari begaimana pengaruh pengahayatan seseorang terhadap ayat – ayat suci terhadap kelegaan batinnya.

2. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat, kami sadar makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat berguna dan menambah wawasan keilmuan kita. Amin...






























Daftar Pustaka

1.      Daradjat, Zakiah.1998. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, cet. XIII
2.      H. Thoules, Robert. 1998. An Introduction Psychology of Religion, alih bahasa Machnun Husein. Pengantar Psikologi agama. Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet. II
3.      Iqbal, Muhammad. 1988. The Reconstruction of Thought in Islam, alih bahasa Osman Raliby, membangun kembali pemikiran islam.Jakarta: Bulan Bintang, cet. II
4.      Jalaluddin. 1997. Psikologi Agama. Jakarta:Raja Grafindo Persada, cet. 1
5.      Mujid, Abdul. 2001. Nuansa- nuansa psikologi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
6.      Ramayulis. 2004. Psikologi Agama. Kalam Mulia.
7.      Rosyidi, Hamim. 2010. Psikologi Agama. Surabaya: Jaudar press.
8.      Surunin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
9.      Yeli, Salmani. 2012. Psikologi Agama. Riau: Zanafa Publishing.
10.  Nasution, Harun. 1973. Filsafat Mistisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.



[1] Jalaluddin.psikologi agama.(Jakarta: Raja Grafind Persada, cet. 1, 1996),halm.10
[2] Zakiah daradjat.ilmu jiwa agama, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. XIII, 1998), halm.2
[3] Hamim Rosyidi. Psikologi agama. Hal 5
[4] Robert H. Thoules. An Introduction Psychology of Religion, alih bahasa Machnun Husein. Pengantar Psikologi agama. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet. II), halm. 14
[5] Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Thought in Islam, alih bahasa Osman Raliby, membangun kembali pemikiran islam, (Jakarta : Bulan Bintang, cet. II 1988).
[6] Ramayulis. Psikologi Agama. Kalam Mulia. 2004. 12
[7] Ibid halm 12
[8] Harun nasution halm 10
[9] Harun Nasution halm 11
[10] Zakiah Daradjat.op.cit.halm 13
[11] Hamim Rosyidi. Psikologi agama. Halm 10
[12] Sururin. Ilmu jiwa agama. Halm 8
[13] Ibid halm 8
[14] Hamim rosyidi.psikologi agama. Halm 11
[15] Ibid halm 19
[16] Jalaludin.psikologi Agama. 2010. Halm 125

Tidak ada komentar:

Posting Komentar