BAB I
Pendahuluan
1.
Latar Belakang Masalah
Manusia tampil di muka bumi ini
sebagai homo religius yang mempunyai makna bahwa ia memiliki sifat – sifat
religius. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang paling dasar, manusia
mempunyai dorongan dan kekuatan guna mendapatkan keamanan hidup dan pemenuhan
kebutuhan di bidang keagamaan.
Pada hakikatnya, manusia adalah
makhluk yang spesifik, baik di lihat dari segi fisik maupun non fisiknya. Di
tinjau dari segi fisik, tidak ada makhluk lain yang memiliki tubuh sesempurna
manusia. Sementara dari segi nonfisik manusia memiliki struktur ruhani yang
sangat membedakan dengan makhluk lain.
Jasmani atau fisik manusia dikaji
dan di teliti oleh disiplin ilmu anatomi, biologi, ilmu kedokteran maupun ilmu
– ilmu lainnya, sedangkan jiwa manusia di pelajari secara khusus oleh
psikologi.
Dalam perkembangan selanjutnya, para
ahli melihat bahwa psikologi memiliki keterkaitan dengan masalah – masalah yang
menyangkut kehidupan batin manusia ytang dalam, yaitu agama. Para ahli kemudian
memunculkan studi kasus tentang hubungan antara kesadaran agama dan tingkah
laku. [1]
Lebih jauh dijelaskan bahwa hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat
erat. Biasanya orang – orang yang mengerti tentang agama dan rajin
melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari, moralnya dapat di
pertanggungjawabkan. Sebaliknya, orang yang akhlaknya merosot, biasanya
keyakinan terhadap agamanya kurang atau tidak ada sama sekali. [2]
2. Rumusan Masalah
a. Definisi Psikologi Agama?
b. Objek Kajian Psikologi Agama?
c. Ruang Lingkup dan kegunaannya?
d. Psikologi agama dan pendidikan
islam?
e. Manfaat dan Tujuan Mmempelajari
Psikologi Agama?
3. Tujuan
a. untuk mengetahui definisi dari psikologi agama
b. untuk mengetahui objek kajian dari psikologi agama
c. untuk mengetahui ruang lingkup
dan kegunaan psikologi agama
d.
untuk mengetahui hubungan psikologi agama dan pendidikan islam
BAB II
Pembahasan
1.
Definisi Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin
religio yang dapat berarti obligation / kewajiban agama. Dalam Encyclopedia of
Philosophy, definisi agama menurut James Martineau adalah kepercayaan kepada
Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur
alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia. Menurut Edward
Craid, agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta,
makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu.
Menurut F.H. Bradley, agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna
tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita. Agama adalah pengalaman dunia
dalam seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan. [3].
Makna agama menurut Robert H.
Thouless menimbulkan kontroversi yang sering lebih besar dari pada arti penting
permasalahannya. Thoules mengutip beberapa pendapat para ahli dalam mengartikan
agama. F.W.H. Myles mendefinisikan agama sebagai tanggapan yang sadar dan
normal dari jiwa manusia terhadap hukum alam. Sementara menurut J.H leuba dalam
bukunya yang berbicara tentang psikologi agama memasukkan lampiran yang berisi
tentang 48 definisi agama yang di berikan menurut beberapa ahli.[4]
Definisi yang di berikan oleh J.H.
Leuba menunjukkan agama sebagai cara bertingkah laku, sebagai sistem kepercyaan
atau sebagai emosi yang bercorak khusus. Sementara Thouless mengemukakan
definisi agama sebagai hubungan praktis yang dirasakan dengan apa yang di
percayai sebagai makhluk atau sebagai wujud yang lebih tinggi dari manusia. [5]
Menurut Vergulius Ferm, beragama
berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian
vital betapapun tentatif dan tidak lengkap pada apapun yang di tanggapi atau
secara implisit atau eksplisit di anggap layak di perhatikan secara serius dan
sungguh – sungguh. [6]
Menurut Oxford, agama menghadirkan
manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang di sebut Tuhan
atau para dewa – dewa untuk patuh menyembahnya. Sedangkan menurut Prof. Dr.
Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan
tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena
cara seseorang berfikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat di
pisahkan dai keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi pribadi.
Dengan melihat dari pendapat para
ahli tersebut maka dapat di ambil kesimpulan bahwa psikologi agama adalah
cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada
seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam
sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain,
psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan
tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang
menyangkut tata cara berfikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak
dapat di pisahka dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalan konstruksi
pribadi. [7]
Agama juga menyangkut masalah yang
berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan,
memang sulit untuk di ukur secra tepat dan teliti. Secara definitif agama
menurut Harun Nasution, agama adalah :
1. Pengakuan terhadap adanya
hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus di patuhi.
2.
Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3. Mengikat diri pada suatu bentuk hudup
yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia
dan yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia.
4. Kepercayaan pada suatu kekuatan
gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku yang
berasal dari sesuatu kekuatan gaib.
6. Pengakuan terhadap adanya
kewajiban – kewajiban yang di yakini bersumber pada sesuatu kekuatan gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib
yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius
yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8. Ajaran – ajaran di wahyukan Tuhan
kepada manusia melalui seorang rasul.[8]
Selanjutnya Harun Nasution
merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama yaitu:
1. Kekuatan gaib yang di yakini
berada di atas kekuatan manusia. Didorong oleh kelemahan keterbatasannya,
manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan menjaga dan membina hubungan
yang baik dengan kekuatan gaib tersebut. Sebagai realisasinya adalah sikap
patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
2. Keyakinan terhadap kekuatan gaib
sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk manusia. Dengan demikian manusia
berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya
terpelihara.
3. Respon yang bersifat emosional
dari manusia. Respon ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan
karena dorongan oleh perasaan takut atau pemujaan yang di dorong oleh perasaan
cinta, serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
4. Paham akan adanya yang kudus dan
suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan gaib, kitab
yang berisi ajaran agama, maupun tempat – tempat tertentu.[9]
2. Objek Kajian Psikologi Agama
Psikologi agama tidak menyelidiki
tentang ajaran – ajaran secara meteriil, dasar – dasar agama dan tidak berwenang
untuk membenarkan atau menyalahkan pengertian yang ada dalam agama. Yang
menjadi obyek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala – gejala
kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme
antara keduanya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologi
agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman
agama (religious experience). [10]
Dengan demikian yang menjadi
lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran
beragama dengan pengaruh dan akibat – akibat yang dirasakan sebagai hasil dari
keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala – gejala
psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme
antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamannya secara timbal balik dan
hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya. [11]
Sikap beragama seseorang mengalami
proses sesuai dengan perkembangan jiwanya, sehingga psikologi agama di samping
mengkaji tingkah laku beragama tertentu juga membahas pertumbuhan dan
perkembangan jiwa beragama seseorang. Mengingat proses tersebut banyak hal yang
mempengaruhi maka dalam pembahasan berikut di jelaskan tentang faktor – faktor
yang mempengaruhi keyakinan seseorang. [12]
Memang, para ahli berbeda dalam
memilih objek kajian. Artinya dari ketiga aspek kajian psikologi agama, tingkah
laku beragama, pertumbuhan dan perkembangan jiwa beragama dan faktor – faktor
yang mempengaruhi sikap beragama seseorang, para ahli berbeda titik tekannya.
William James, lebih memfokuskan penelitiannya pada tingkah laku beragama pada
tokoh agama. Sementara Robert H. Thouless banyak mengkaji faktor – faktor yang mempengaruhi
keyakinan seseorang. Spilka dan Clark hampir sama kajiannya, di samping
membahas perilaku beragama, juga membahas pertumbuhan dan perkembangan jiwa
beragama. Pembahasan terakhir ini juga di bahas oleh Al-Malighy dan Zakiah
Daradjat. [13]
3. Ruang Lingkup dan Kegunaannya
Sebagai disiplin ilmu yang otonom,
psikologi agama memiliki ruang lingku[ pembahasan tersendiri yang dibedakan
dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Lenih lanjut,
Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup
proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat
yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Oleh karena itu menurut Zakiah
Daradjat ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi
kajian mengenai :
a. Bermacam – macam emosi yang
menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa,
seperti rasa lega dan tentram sehabis sembahyang, pasrah dan menyerah setelah
dzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang
bersangkutan.
b. Bagaimana perasaan dan pengalaman
seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan
batin.
c. mempelajari, meneliti dan
menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada
tiap – tiap orang.
d. meneliti dan mempelajari perasaan
dan kesadaran orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan
neraka serta dosa dan pahala yang turut berpengaruh terhadap sikap dan tingkah
lakunya dalam kehidupan.
e. Meneliti dan mempelajari
begaimana pengaruh pengahayatan seseorang terhadap ayat – ayat suci terhadap
kelegaan batinnya.[14]
Semuanya itu menurut Zakiah Daradjat
tercakup dalam kesadaran agama dan pengalaman agama. Yang di maksud dengan
kesadaran agama adalah bagian segi agama yang hadir dalam pikiran yang
merupakan aspek mental dari aktivitas agama.
Sedangkan pengalaman agama adalah
unsur perasaan dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada
keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliyah).
Hasil kajian psikologi agama
tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti
dalam bidang pendidikan, industri, antropologi, psikoterapi, dan lainnya.
Seperti halnya dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan
kesadaran agama. Pengobatan – pengobatan pasien rumah sakit, usaha bimbingan
dan penyuluhan narapidana dilembaga pemasyarakatan banyak dilakukan dengan
menggunakan psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi
agama dapat difungsikan pada pembicaraan moral dan mental keagamaan peserta
didik. [15]
4. Hubungan Psikologi agama dan Pendidikan Islam
Pendidikan islam disini diartikan
sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab
terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang
dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakekat
kejadiannya. Jadi dalam pengertian ini, pendidikan islam tidak dibatasi oleh
institusi kelembagaan ataupun pada lapangan pendidikan tertentu. Pendidikan
islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas.
Pendekatan psikologi agama dalam
pendidikan islam ternyata telah dilakukan diperiode awal perkembangan islam itu
sendiri. Fungsi dan peran kedua orang tua sebagai teladan yang terdekat dengan
anak telah diakui dalam pendidikan islam. Bahkan agama dan keyakinan seseorang
anak dinilai sangat tergantung dari keteladanan para orang tua mereka.
Dalam pandangan islam, sejak
dilahirkan manusia telah dianugrahkan potensi keberagamaan. Potensi ini baru
dalam bentuk sederhana, yaitu berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi
ini tidak salah, maka perlu adanya bimbingan dari luar. Secara kodrati orang
tua merupakan pembimbing pertama yang
mula – mula dikenal anak. Oleh karena itu Rasulullah menekankan
bimbingan itu pada tanggung jawab kedua orang tua. Setiap bayi dilahirkan dalam
keadaan fitrahnya (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang akan
menjadikannya sebagai Majusi, Yahudi, atau Nasrani, sabda Rasulullah SAW.
Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa pengaruh bimbingan ibu bapak memiliki
peran yang strategis dalam membentuk jiwa agama pada diri anak. Demikian
pentingnya pengaruh bimbingan itu, hingga dikaitkan dengan akidah. Sebab bila
dibiarkan berkembang dengan sendirinya, maka potensi keberagamaan anak akan
salah arah. Kecenderungan untuk tunduk pada sesuatu, dapat saja di arahkan pada
yang salah.
Bimbingan kejiwaan diarahkan pada
pembentukan nila- nilai imani sedangkan keteladanan, pemboasaan, dan disiplin
dititik beratkan pada pembentukan nilai – nilai imani. Keduanya memiliki
hubungan timbal balik. Dengan demikian, kesadaran agama dan pengalaman agama
dibentuk melalui proses bimbingan terpadu. Hasil yang diharapkan adalah sosok manusia
yang beriman (kesadaran agama) dan beramal saleh (pengalaman beragama). Anak
dibimbing untuk tunduk dan mengabdikan diri hanya kepada Allah sesuai dengan
fitahnya. Kemudian sebagai pembuktian dari pengabdian itu, direalisasikan dalam
bentuk perbuatan dan aktifitas yang bermanfaat sesuai dengan perintahnya. [16]
5. Manfaat Mempelajari Psikologi Agama
Manfaat kita mempelajari psikologi
agama yaitu bisa dimanfaatkan dalam lapangan kehidupan seperti dalam bidang
pendidikan, psikoterapi dan lapangan lainnya dalam kehidupan. Bahkan sudah
sejak lama pemerintah kolonial belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi
agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Fnouck
Hugronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik
penjajahan belanda di Indonesia.
Di bidang industri psikologi agama
dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950an diperusahaan minyak STANFAC (Laju dan
Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama islam untuk para pekerjanya.
Kita mempelajari psikologi agama
juga merupakan keharusan sebagai umat islam yang sangat meyakini akan
kepercayaan kepada ALLAH SWT. Jiwa dan kehendak kita sudah diatur oleh Sang
Illahi. Dalam kajiannya psikologi agama menyelidiki tentang ajaran-ajaran
secara meteril akan dasar-dasar agama yang menjadi dasar manusia dalam
berkeyakinan dan bertindak.
Diantara kegunaan psikologi agama
yaitu sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan
dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia kaitannya dengan agama yang
dianutnya, perasaan keagamaan itu dapat memengaruhi ketentraman batinnya baik
konflik itu terjadi pada diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan
ajaran agamanya maupun tidak.
Di bidang industri, psikologi juga
bisa dimanfaatkan. Misalnya, adanya ceramah agama islam guna menyadarkan para
buruh dari perbuatan yang tak terpuji dan merugikan perusahaan.
Dalam banyak kasus, pendekatan
psikologi agama, baik langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk
membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Selain itu dalam pendidikan
psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaaan moral dan mental keagamaan
manusia.
6. Tujuan Mempelajari Psikologi Agama
Untuk meneliti dan menelaah
kehidupan beragama seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan
agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta kehidupan pada umumnya. Juga
bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan
prinsip-prinsip psikologi yang diambil dari kajian terhadap perilaku bukan
keagamaan.
BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
a. Psikologi adalah ilmu yang
mempelajari gejala jiwa manusia dengan instrumen sikap, respon perilaku yang
dapat diamati atau diteliti.
b. Agama dapat diartikan sebagai
pengakuan adanya kekuatan adil kodrati Allah SWT, hubungan antara manusia
dengan Tuhannya dalam bentuk upacara ritual atau persembahan, yang mengikat
berbagai sendi perilaku manusia dalam kesehariannya, sehingga dengannya
melahirkan millah (jalan hidup yang lurus) sebagai sistem tingkah laku. Pola
hubungan manusia dengan Tuhan tersebut kemudian dapat berwujud sebagai
kewajiban, perintah maupun larangan yang dapat diwujudkan dalam sendi kehidupan
maupun ritual dan dapat berfungsi sebagai keyakinan hidup sesudah mati.
c. Psikologi agama adalah ilmu yang
mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam
sikap dan tingkah laku keseharian, baik disadari maupun tidak sadari (habit).
d. Psikologi agama adalah cabang
psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia terhadap agama
yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing – masing.
Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui
pendekatan psikologi.
e. Ruang lingkup objek studi
psikologi agama adalah :
1. Bermacam – macam emosi yang
menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa,
seperti rasa lega dan tentram sehabis sembahyang, pasrah dan menyerah setelah
dzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang
bersangkutan.
2. Bagaimana perasaan dan pengalaman
seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan
batin.
3. mempelajari, meneliti dan
menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada
tiap – tiap orang.
4. Meneliti dan mempelajari perasaan
dan kesadaran orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan
neraka serta dosa dan pahala yang turut berpengaruh terhadap sikap dan tingkah
lakunya dalam kehidupan.
5. Meneliti dan mempelajari
begaimana pengaruh pengahayatan seseorang terhadap ayat – ayat suci terhadap
kelegaan batinnya.
2. Saran
Demikianlah
makalah ini kami buat, kami sadar makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena
itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini
dapat berguna dan menambah wawasan keilmuan kita. Amin...
Daftar Pustaka
1.
Daradjat,
Zakiah.1998. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, cet. XIII
2.
H. Thoules,
Robert. 1998. An Introduction Psychology of Religion, alih bahasa
Machnun Husein. Pengantar Psikologi agama. Jakarta : Raja Grafindo
Persada, cet. II
3.
Iqbal,
Muhammad. 1988. The Reconstruction of Thought in Islam, alih bahasa
Osman Raliby, membangun kembali pemikiran islam.Jakarta: Bulan Bintang,
cet. II
4.
Jalaluddin.
1997. Psikologi Agama. Jakarta:Raja Grafindo Persada, cet. 1
5.
Mujid, Abdul.
2001. Nuansa- nuansa psikologi Islam.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
6.
Ramayulis.
2004. Psikologi Agama. Kalam Mulia.
7.
Rosyidi, Hamim.
2010. Psikologi Agama. Surabaya:
Jaudar press.
8.
Surunin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
9.
Yeli, Salmani.
2012. Psikologi Agama. Riau: Zanafa
Publishing.
10.
Nasution,
Harun. 1973. Filsafat Mistisme Dalam
Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
[1]
Jalaluddin.psikologi agama.(Jakarta: Raja Grafind Persada, cet. 1,
1996),halm.10
[2] Zakiah
daradjat.ilmu jiwa agama, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. XIII, 1998), halm.2
[3] Hamim
Rosyidi. Psikologi agama. Hal 5
[4] Robert
H. Thoules. An Introduction Psychology of Religion, alih bahasa Machnun Husein.
Pengantar Psikologi agama. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet. II), halm. 14
[5] Muhammad
Iqbal, The Reconstruction of Thought in Islam, alih bahasa Osman Raliby, membangun
kembali pemikiran islam, (Jakarta : Bulan Bintang, cet. II 1988).
[6]
Ramayulis. Psikologi Agama. Kalam Mulia. 2004. 12
[7] Ibid
halm 12
[8] Harun
nasution halm 10
[9] Harun
Nasution halm 11
[10] Zakiah
Daradjat.op.cit.halm 13
[11] Hamim
Rosyidi. Psikologi agama. Halm 10
[12]
Sururin. Ilmu jiwa agama. Halm 8
[13] Ibid
halm 8
[14] Hamim
rosyidi.psikologi agama. Halm 11
[15] Ibid
halm 19
[16]
Jalaludin.psikologi Agama. 2010. Halm 125
Tidak ada komentar:
Posting Komentar