Kamis, 17 Desember 2015

Studi Al Qur'an

Hubungan Surat Ar’Rad Ayat 11 dan Surat               Al-Insyirah Ayat 2-3 yang Berkaitan dengan Psikologi

Makalah
Ditujukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Studi Qur’an
Description: C:\Users\USER\Documents\uin sunan ampel surabaya.jpg
Dosen Pembimbing
Rudy Al Hana, M.Ag

DisusunOleh
Husna Sholihah  ( J71214041 )
Putri Nilam Sari ( J71214066 )
Putri Pamungkas ( J71214068 )

PRODI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI dan KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2014
TAFSIR AL-QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11
TAFSIR AL MISBAH SURAT AR’RAD AYAT 11(1)

Artinya : Ada baginya pengikut-pengikut yang bergiliran, dihadapannya dan dibelakangnya; mereka menjganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah mengkehendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Allah menjadikan para mu’aqqibat itu melakukan apa yang ditugaskan kepadanya yaitu memelihara manusia, sebagaimana dijelaskan di atas karena Allah telah menetapkan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka, yakni kondisi kejiwaan/sisi dalam mereka, seperti mengubah kesyukuran menjadi kekufuran, ketaatan menjadi kedurhakaan, iman menjadi penyekutuan Allah, dan ketika itu Allah akan mengubah ni’mat (nikmat) menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan, dan seterusnya. Ini adalah satu ketetapan pasti yang kait-mengkait. Demikian lebih kurang Thabathaba’i.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, “secara panjang lebar penulis uraikan dalam buku Secercah Cahaya Ilahi. Disana antara lain penulis kemukakan bahwa paling tidak ada dua ayat dalam Al – Qur’an  yang sering diungkap dalam konteks perubahan social, yaitu firman-Nya dalam QS. Al – Anfal (8): 53
“Yang demikian itu (siksaan yang terjadi terhadap Firaun dan rezimnya) disebabkan karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkannya kepada satu kaum, sampai mereka sendiri mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka” dan ayat yang kedua adalah ayat yang sedang ditafsirkan ini.
1 M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah (Jakarta, 2002), hlm. 227-237
            Kedua ayat diatas berbicara tentang perubahan, tetapi ayat pertama berbicara tentang perubahan nikmat, sedang ayat kedua yang menggunakan kata mal apa berbicara tentang perubahan
apapun, yakni baik dari ni’mat atau sesuatu yang positif menuju ke niqmat/murka Ilahi atau sesuatu yang negative maupun sebaliknya dari negative ke postif.
            Ada beberapa hal yang perlu di garisbawahi menyangkut kedua ayat diatas.
Pertama, ayat – ayat tersebut berbicara tentang perubahan social, bukan perubahan individu. Ini dipahami dari penggunaan kata qauml masyarakat pada ayat tersebut. Selanjutnya, dari sana dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan social tidak dapat dilakukan oleh seorang mannusia saja. Memang, boleh saja bermula dari seseorang yang ketika ia melontarkan atau menyebarluaskan ide – idenya, diterima dan menggelinding dalam masyarakat. Pola pikir dan sikap perorangan itu “menular” kepada masyarakat luas, lalu sedikit demi sedikit “mewabah” kepada masyarakat luas.
            Kedua, penggunaan kata “qaum” juga menunjukkan bahwa hukum kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin atau satu suku, ras dan agama tertentu, tetapi ia berlaku umum, kapan dan dimanapun mereka berada.  Selanjutnya, karena ayat tersebut berbicara tentang kaum, ini berarti sunnatullah yang dibicarakan ini berkaitan dengan kehidupan duniawi, bukan ukhrawi. Pertanggunggjawaban pribadi baru akan terjadi di akhirat kelak, berdasarkan firmanNya:
Setiap mereka akan datang menghadap kepada-Nya sendiri – sendiri” (QS.Maryam(19):95)
            Ketiga, kedua ayat tersebut berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pelaku yang pertama adalah Allah SWT yang mengubah nikmat yang dianugerahkanNya kepada suatu masyarakat atau apa saja yang dialami oleh suatu masyarakat, atau katakanlah, sisi luarnya / lahiriah masyarakat. Sedang, pelaku kedua adalah manusia, dalam hal ini masyarakat yang melakukan perubahan pada sisi dalam mereka atau dalam istilah kedua ayat diatas ma bi anfusihiml apa yang terdapat dalam diri mereka. Perubahan yang terjadi akibat campur tangan Allah atau yang diistilahkan oleh ayat diatas dengan ma bi yaumin menyangkut banyak hal, seperti kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kemuliaan atau kehinaan, persatuan atau perpecahan, dll yang berkaitan dengan masyarakat secara umum, bukan secara individu. Sehingga bisa saja ada diantara anggotanya yang kaya, tetapi jika mayoritasnya miskin, masyarakat tersebut dinamai masyarakat miskin, demikian seterusnya.
            Keempat, kedua ayat itu juga menekankan bahwa perubahan yang dilakukan Allah haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut sisi dalam mereka. Tanpa perubahan ini, mustahil akan terjadi perubahan social. Karena itu, boleh saja terjadi perubahan penguasa atau bahkan sistem, tetapi jika sisi dalam masyarakat tidak berubah, keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sediakala. Jika demikian, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam pandangan Al – Quran yang paling pokok guna keberhasilan perubahan sosial adalah perubahan sisi dalam manusia karena sisi dalam manusialah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun negative, dan bentuk, sifat, serta corak aktifitas itulah yang mewarnai keadaan masyarakat apakah positif atau negative.
Sisi dalam manusia dinamai nafs, bentuk jamaknya anfus dan sisi luar yang dinamainya antara lain jism yang dijamak ajsam. Sisi dalam tidak selalu sama dengan sisi luar. Ini diketahui dan terlihat dengan jelas pada orang – orang munafik (baca QS. Al – Munafiqun (63):4). Jika kita diibaratkan nafs dengan sebuah wadah, nafs adalah wadah besar yang di dalamnya ada kota / wadah berisikan segala sesuatu yang disadari oleh manusia. Al – Quran menamai “kotak” itu qalbu. Apa – apa yang telah dilupakan manusia namun sesekali dapat muncul dan yang dinamai oleh ilmuwan “bawah sadar” juga berada di dalam wadah nafs, tetapi diluar wilayah “kalbu”.
            Banyak hal yang dapat ditampung oleh nafs, namun dalam konteks perubahan (pada nafs) penulis menggaris bawahi tiga hal pokok.
Pertama, nilai – nilai yang dianut dan dihayati oleh masyarakat. Setiap nafs mengandung nilai – nilai, baik positif maupun negative, paling tidak nafs mengandung hawa nafsu yang mendorong manusia kepada kebinasan. Nilai – nilai yang mampu mengubah masyarakat harus sedemikian jelas dan mantap. Tanpa kejelasan dan kemantapan, ia tidak akan menghasilkan sesuatu pada sisi luar manusia karena yang mengarahkan dan melahirkan aktifitas manusia adalah nilai – nilai yang dianutnya. Dan nilai – nilai itulah yang memotivasi gerak langkahnya dan yang melahirkan akhlak baik ataupun buruk.
            Apabila suatu masyarakat masih mempertahankan nilai – nilainya, perubahan sistem, apalagi sekedar perubahan penguasa tidak akan menghasilkan perubahan masyarakat. Di sisi lain semakin luhur  dan tinggi suatu nilai, semakin luhur dan tinggi pula yang dapat dicapai, sebaliknya semakin terbatas, semakin terbatas pula pencapaiannya. Sekuralisme atau pandangan kekinian dan kedisinian, pencapaiannya sangat terbatas, sampai disini dan kini saja, sehingga menjadikan penganutnya hanya memandang masa kini, dan pada gilirannya menghasilkan budaya mumpung. Kekinan dan kedisinian juga menghasilkan kemandekan di samping menjadikan orang – orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan dapat bertindak sewenang – wenang. Nilai yang diajarkan islam adalah Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Dia sangat luhur lagi langgeng sehingga perjuangan mencapai keluhuran tidak pernah akan mandek, apalagi Allah menjanjikan untuk menambah anugerahNya untuk mereka yang telah mendapat anugerah.
“Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal – amal saleh yang kekal lebih baik di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya” (QS. Maryam [19]:76), dan
Jika kamu bersyukur pasti kutambah (anugerah-Ku) untuk kamu” (QS. Ibrahim [14]:7)
            Kedua, menyangkut sisi dalam manusia yaitu iradah, yakni tekad dan kemauan keras.
Ibn Taimiyah(12), ketika menjawab pertanyaan tentang hakikat azam dan iradah, menjawab lebbih kurang sebagai berikut: “Iradah / tekad yang kuat itulah yang menghasilakan aktifitas bila disertai dengan kemampuan. Karena itu, apabila iradah yang mantap telah dimiliki dan disertai dengan kemampuan sempurna pasti wujud pula aktifitas yang dikehendaki karena ketika itu telah terpenuhi secara sempurna syarat dan tersingkirkan pula penghalangnya.”
            Apabila ada iradah dan kemampuan juga telah sempurna, sedang apa yang diharapkan tidak terpenuhi, yakinlah bahwa ketika itu iradah belum sempurna.
            Iradah lahir dari nilai – nilai atau ide- ide yang ditawarkan dan diseleksi oleh akal. Jika akal sehat, ia akan memilih dan memilih dan melahirkan iradah yang baik, demikian pula sebaliknya. Semakin jelas nilai- nila yang ditawarkan serta semakin cerah akal yang menyeleksinya semakin kuat pula iradah- nya.
            Iradah yang dituntun oleh Islam adalah yang mengantar manusia berhubungan serasi dengan Tuhan, alam, sesamanya, dan dirinya sendiri. Dengan kata lain yaitu, kehendak yang kuat untuk mewujudkan nilai- nilai tauhid dengan segala tuntunannya. Semakin kukuh iradah, semakin bersedia seseorang untuk berkorban dengan jwa dan hartanya. Karena itu, ketakutan dan kekikiran bertentangan dengan iradah, sebaliknya keberanian dan kedermawanan adalah bukti iradah yang kuat.
            Ketiga, menyangkut kemampuan. Kemampuan terdiri dari kemampuan fisik dan kemampuan non fisik, yang dalam konteks perubahan social dapat dinamai kemampuan pemahaman. Suatu masyarakat yang wilayahnya mempunyai kekayaan materi, tidak dapat bangkit mencapai kesejahteraan lahir dan batin, tanpa memiliki kemampuan dalam bidang pemahaman ini. Kemampuan pemahaman ini dinamai oleh filosof muslim kontemporer, Malik Ibn Nabi, sebagai al- Manthiq al- ‘Amalyl Logika Praktis. Kemampuan pemahaman mengantar seseorang/ masyarakat mengelola sesuatu dengan baik dan benar dan menuntunnya agar menggunakan kemampuan materialnya secara baik dan benar pula. Sebaliknya, hilangnya kemampuan pemahaman akan mengakibatkan hilangnya kemampuan material. Bahkan, jika kemampuan pemahaman tidak dimiliki, lambat laun iradah akan terkikis dan ketika itu yang terjadi adala kepasrahan kepada nasib, atau iradah beralih kepada hal lain  yang mutunya lebih rendah. Kemampuan pemahaman yang dibicarakan diatas tempatnya juga pada sisi dalam manusia.
“Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya” adalah penegasan tentang kandungan penggalan sebelumnya tentang sunnatullah bagi terjadinya perubahan, khususnya dari positif menjadi negative. Yakni tidak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalangi berlakunya ketentuan sunnatullah itu. Penggalan ini menguatkan sekali hakikat yang berulang – ulang ditegaskan oleh Al – Quran bahwa segala sesuatu kembal kepada pengaturan Allah dan kehendakNya.
Sementara ulama menjadikan penggalan terakhir ayat ini sebagai alasan untuk menyatakan bahwa perubahan yang dimaksud oleh ayat ini adalah perubahan dari positif ke negative saja. Bukan perubahan dari negative ke positif. Pendapat ini kurang tepat, sebagaimana telah dijelaskan diatas ketika menguraikan arti ma bi qaumin. Bahwa penutup ayat ini hanya berbicara tentang keburukan yang menimpa kaum karena konteks ayat berbicara tentang orang – orang kafir yang meminta agar siksa disegerakan (baca ayat 6)
            Ayat diatas, disamping meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap manusia karena darinya dipahami bahwa kehendak Allah atas manusia yang telah Dia tetapkan melalui sunah – sunah-Nya berkait erat dengan kehendak dan sikap manusia. Disamping tanggung jawab itu, ayat ini juga menganugerahkan kepada manusia penghormatan manusia yang demikian besar. Betapa tidak? Bukankah ayat ini menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan Allah atas manusia tidak akn terjadi sebelum manusia terlebih dahulu melangkah. Demikian sikap dan kehendak manusia menjadi “syarat” yang mendahului perbuatan Allah SWT. Sungguh ini merupakan penghormatan yang luar biasa.

TAFSIR IBNU KATSIR AL QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11(2)

Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di beelakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Seseungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada perlindungan dari mereka selain Dia.
2 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 (Jakarta, 1999), hlm. 903-906
            Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah yang ada pada diri mereka sendiri.” Ibnu Abi Hati meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi Bani Israel: Katakanlah kepada kaummu, “Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah suatu rumah yang berada dalam ketaatan kepada Allah, kemudia mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan diri mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci.” Kemudian Ibrahim berkata: Pembenaran atas pernyataan itu terdapat dalam kitab Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah pada yang ada pada diri mereka sendiri.”

PERSAMAAN TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11
            Tafsir Al Misbah dan Ibnu Katsir memiliki kesamaan dalam menafsirkan Al Qur’an Surat Ar’Rad ayat 11. Sebgaimana telah dijelaskan “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” yaitu kondisi kejiwaan/sisi dalam mereka, seperti mengubah kesyukuran menjadi kekufuran, ketaatan menjadi kedurhakaan, iman menjadi penyekutuan Allah, dan ketika itu Allah akan mengubah ni’mat (nikmat) menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan, dan seterusnya. Ini adalah satu ketetapan pasti yang kait-mengkait.

PERBEDAAN TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL-QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11
            Tafsir Al Misbah dan Ibnu Katsir memiliki perbedaan dalam menafsirkan Al Qur’an Surat Ar’Rad ayat 11. Letak perbedaan yang dapat terlihat jelas adalah pada terjemahnya. Pada Tafsir Al misbah menggunakan kata “Ada baginya pengikut-pengikut yang bergiliran, dihadapannya dan dibelakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah mengkehendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” Sedangkan pada Tafsir Ibnu Katsir menggunakan kata “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan dibelakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Seseungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada perlindungan dari mereka selain Dia.”
Pada Tafsir Al Misbah dijelaskan secara rinci mengenai berbagai macam perubahan. Pertama, ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan social tidak dapat dilakukan oleh seorang mannusia saja. Memang, boleh saja bermula dari seseorang yang ketika ia melontarkan atau menyebarluaskan ide – idenya, diterima dan menggelinding dalam masyarakat. Pola pikir dan sikap perorangan itu “menular” kepada masyarakat luas, lalu sedikit demi sedikit “mewabah” kepada masyarakat luas. Kedua, penggunaan kata “qaum” juga menunjukkan bahwa hukum kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin atau satu suku, ras dan agama tertentu, tetapi ia berlaku umum, kapan dan dimanapun mereka berada. Ketiga, ayat tersebut berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pelaku yang pertama adalah Allah SWT yang mengubah nikmat yang dianugerahkanNya kepada suatu masyarakat atau apa saja yang dialami oleh suatu masyarakat. Pelaku kedua adalah manusia, dalam hal ini masyarakat yang melakukan perubahan pada sisi dalam mereka. Keempat, ayat itu juga menekankan bahwa perubahan yang dilakukan Allah haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut sisi dalam mereka. Tanpa perubahan ini, mustahil akan terjadi perubahan social. Namun pada Tafsir Ibnu Katsir rinciannya sangat sedikit dan isinya adalah riwayat. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi Bani Israel: Katakanlah kepada kaummu, “Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah suatu rumah yang berada dalam ketaatan kepada Allah, kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan diri mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci.” Kemudian Ibrahim berkata: Pembenaran atas pernyataan itu terdapat dalam kitab Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah pada yang ada pada diri mereka sendiri”.

HUBUNGAN AL QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11 DENGAN PSIKOLOGI
Dalam Psikologi dikenal bermacam-macam pelatihan dan metode pengembangan pribadi (Personal Growth)(3). Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadarann bahwa manusia sebagai “the self determining being” memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Prinsip ini tanpaknya sesuai dengan prinsip mengubah nasib yang terungkap dalam QS Ar’Rad ayat  11.
3 Agus Sujanto, Drs. Halem Lubis, Drs. Taufik Hadi, Psikologi Kepribadian (Jakarta, 1991), hlm. 27-30
Artinya :” Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Salah satu kegiatan pengembangan pribadi adalah Pelatihan Menemukan Makna Hidup yang kiranya dapat dimodifikasikan untuk merancang program pelatihan Menuju Kepribadian Muslim.
Pelatihan Menemukan Makna Hidup ini didasari oleh prinsip Panca Sadar, yakni :
1.      Sadar akan citra diri yang diidam idamkan.
2.      Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri sendiri.
3.      Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar.
4.      Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi.
5.      Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri teladan
Selain prinsip prinsip  tersebut di atas dalam proses pelatihan ini perlu dipahami benar pendekatan, metode dan teknik-teknik pengembangan pribadi yang disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”, yakni :
1.      Pemahaman Diri.
2.      Bertindak Positif.
3.      Pengakraban Hubungan.
4.      Pendalaman dan Penerapan Tri Nilai.
5.      Ibadah.
Pemahaman Diri: mengenali secara objektif kekuatan kekuatan dan kelemahan kelemahan diri sendiri, baik yang masih merupakan potensi maupun yang sudah teraktualisasi, untuk kemudian kekuatan kekuatan itu dikembangkan dan ditingkatkan serta kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.
Bertindak Positif: mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal hal yang dianggap baik dan bermanfaat.
Pengakraban Hubungan: meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu (missalnya anggota keluarga, teman, rekan sekerja), sehingga masing masing saling mempercayai, saling memerlukan satu dengan lainnya, serta saling membantu.
Pendalaman Tri Nilai: Berusaha untuk memahami dan memenuhi tiga macam nilai yang dianggap  merupakan sumber makna hidup, yaitu:
1.      Nilai kreatif (Kerja, karya).
2.      Nilai Penghayatan (kebenaran, keindahan, kasih, iman).
3.      Nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tak dapat dihindari lagi)
Ibadah: berusaha melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa yang dilarangNya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasan tentram, mantap, dan tabah, serta tak jarang pula menimbulkan perasaan seakan akan mendapat bimbingan dan petunjukNya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Kelima metode tersebut tujuannya untuk menjajagi sumber makna hidup dari kehidupan sehari hari dan lingkungan sekitarnya. Makna hidup ini bila ditemukan dan berhasil dipenuhi diharapkan mendatangkan perasaan bermakna dan bahagia yang semuanya merupakan cerminan probadi yang mantap dan sehat. Pendekatan inidapat difungsikan dalam peatihan “Menuju Keprbadian Muslim”.

KESIMPULAN
1.      Tafsir Al Misbah
Pada Tafsir Al Misbah dapat diambil kesimpulan bahwa disamping meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap manusia karena darinya dipahami bahwa kehendak Allah atas manusia yang telah Dia tetapkan melalui sunah – sunah-Nya berkait erat dengan kehendak dan sikap manusia. Disamping tanggung jawab itu, ayat ini juga menganugerahkan kepada manusia penghormatan manusia yang demikian besar. Ayat ini menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan Allah atas manusia tidak akan terjadi sebelum manusia terlebih dahulu melangkah. Demikian sikap dan kehendak manusia menjadi “syarat” yang mendahului perbuatan Allah SWT.
2.      Tafsir Ibnu Katsir
Pada Tafsir Ibnu Katsir dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada penduduk suatu negeri yang berada dalam ketaatan Allah kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan diri mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci. Maksudnya adalah segala perubahan yang baik maupun buruk itu adalah atas kehendak kita sendiri/perbuatan kita sendiri. Ketika kita menjadi buruk, itu bukan kehendak Allah yang menjadikan kita buruk, namun itu hasil dari apa yang telah kita lakukan. Jadi tidak ada campur tangan Allah dalam merubah nasib bila kita belum merubahnya sendiri.
3.      Psikologi
Pada Psikologi Kepribadian dapat diambil kesimpulan bahwa kita dapat mengubah nasib kita dengan berbagai cara/metode. Untuk berubah kita akan melewati tahap-tahap. Yaitu menggunakan teknik pengembangan pribadi yang disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”. Pertama, dengan melakukan pemahaman diri. Kedua, dengan cara bertindak positif. Ketiga, dengan pengakraban hubungan. Keempat, dengan melakukan pendalaman dan penerapan Tri Nilai (Nilai Kreatif,Nilai Penghayatan,Nilai Bersikap). Kelima, dengan Ibadah. Kelima metode ini menjajahi sumber makna hidup dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitarnya. Dan apabila telah menemukan makna hidup maka akan menimbulkan rasa senang dan bahagia yang semuanya merupakan cerminan pribadi yang mantap dan sehat. Sehingga akan memantapkan kepribadian muslim kita untuk selalu menjadi lebih baik.
Jadi, bagi umat islam usaha pengembangan pribadi ini benar benar sudah dipermudah dengan adanya anugerah Tuhan berupa sarana sarana yang sangat vital untuk pengembangan pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah tuntutan Al Qur’an yang maha benar dengan al Hadist sebagai petunjuk pelaksanaannya, ibadah-ibadah yang dapat mempertinggi derajat kerohanian dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan panutan umat, yaitu Nabi Muhammad SAW sendiri yang dimasyhurkan memilki Akhlak al Qur’an,  keluhuran budi pekertinya mendapat pujian langsung dari Tuhan , dan memperbaiki akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya








TAFSIR AL – QUR’AN SURAT AL – INSYIRAH AYAT 2 - 3
TAFSIR AL MISBAH SURAT AL- INSYIRAH AYAT 2 – 3(4)

Artinya :”Dan kami telah menanggalakan darimu bebanmu yang memberatkan punggungmu”.

            Disamping anugerah kemudahan yang akan diperoleh nabi Muhammad SAW, ayat diatas melanjutkan bahwa: Dan, disamping itu, Kami juga telah menanggalkan darimu bebanmu yang selama ini engkau pikul dan yang engkau rasakan sangat memberatkan punggungmu.
            Kata wadha’na/ Kami telah menanggalkan berbentuk kata kerja masa lampau. Bentuk demikian menjadi alasan yang kuat dari pendapat yang menyatakan bahwa ”pertanyaan” ayat pertama surat ini tidak dimaksudkan sebagai pertanyaan, tetapi penegasan tentang dilapangkannya dada Nabi Muhammad SAW. Intinya adalah, ketika turunnya surat ini “dada Rasul sangat lapang dan jiwa nya amat tenang”.
            Disebutkannya kelapangan dada sebagai anugerah Allah tidak harus dan tidak hanya mungkin disebabkan adanya “keluh kesah” menyangkut misi dakwah,tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor lain. Menurut sekian banyak riwayat yang dikemukakan oleh banyak ahli tafsir , antara lain Ibnu Katsir, bahwasannya menjelang turunnya ayat-ayat surat ini Nabi Muhammad SAW membanding-bandingkan keadaannya dengan keadaan para nabi terdahulu, kemudian mengajukan suatu permohonan yang sebenarnya “kecil“ dibandingkan dengan anugerah yang telah diperolehnya. Nah, ketika itu turun ayat-ayat ini. Dari riwayat ini jelas tidak ada keluh kesah menyangkut dakwah. Riwayat ini justru menguatkan kesan yang ditimbulkan oleh kata laka yang telah dikemukakan diatas, yakni anugerah yang diperoleh nabi Muhammad SAW merupakan anugerah khusus dan melebihi anugerah yang telah diterima oleh nabi-nabi sebelumnya.
           
4 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah (Jakarta, 2002), hlm. 411-413

Kata wadha’a mempunyai banyak arti, antara lain meletakkan, merendahkan, meringankan, meremehkan dan sebagainya.Pada umumnya,Al-Qur’an menggunakan kata tersebut menyangkut sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang berat-material atau immaterial-kemudian menjadi ringan dan enteng seperti, misalnya seorang ibu yang melahirkan anak (baca antara  lain QS.Ali’Imran (3):36)atau gencatan senjata setelah peperangan (Baca QS. Muhammad [47] :4).
            Kata wizr pada mulanya berarti gunung. Gunung memberi kesan sesuatu yang berat dan besar – bahkan demikian itulah hakikatnya. Hakikat makna yang dikandung itu menjadi tumpuan semua arti kata-kata yang berakar padanya, misalnya wazir/menteri karena ia memikul tanggung jawab yang besar dan berat, demikian pula juga kata wizr yang berarti dosa karena yang berdosa merasakan didalam jiwanya sesuatu yang berat berbeda halnya dengan kebajikan, disamping itu dosa akan menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul oleh pelakunya dihari kemudian.
            Ayat ini mengisyaratkan bahwa sebelum turunya ayat diatas ada sesuatu yang amat berat dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian diringankan. Berat beban itu dilukiskan oleh lanjutan ayat tersebut.
            Kata anqadha terambil dari kata naqidh. Beban berat yang dipikul dengan menggunakan kayu tua bambu seringkali melahirkan suara yang terdengar bersumber dari alat pikul itu. Suara tersebut dinamai naqidh. Ayam betina ketika selesai bertelur, biasanya berkotek, itu dilukiskan dengan kalimat Intaqadhat ad-dajajah.
            Dari ayat ini dapat diketahui betapa berat beban yang dipikul oleh nabi Muhammad SAW sampai-sampai punggung beliau bersuara seperti suara kayu atau bamboo yang dilukiskan diatas. Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang beban itu. Karenanya, timbul berbagai pendapat ulama, antara lain:
1.      Wafat nya istri beliau Khadijah r.a dan paman beliau Abu Thalib.
2.      Beratnya wahyu Al-Qur’an yang beliau terima (Baca QS Al-Hasyr [59]:21).
3.      Keadaan masyarakat pada masa Jahiliah.
Penulis tidak cenderung menerima pendapat pertama karena ,walaupun wafatnya kedua pendukung utama beliau itu merupakan suatu beban yang cukup berat,bukankah semua orang dapat mengalami hal yang serupa dan dapat pula pada akhirnya melampaui krisis semacam itu? Rasanya kecil beban tersebut untuk dicatat dalam Al-Qur,an sebagai anugerah Allah SWT kepada beliau, apalagi bila dibandingkan dengan anugerah yang dikandung oleh ayat pertama dan ayat keempat berikut.Demikian juga dengan pendapat kedua Karena,sampai akhir hayat beliau wahyu-wahyu yang diterimanya selalu merupakan wahyu-wahyu yang “berat “dan tidak jarang mencucurkan keringat,bahkan menjadikan rambut beruban sebagaimana yang beliau akui sendiri,”Surat Hud menjadikan aku tua,” demikian pengakuan Rasul.
            Pendapat ketiga dikemukakan antara lain oleh Syaikh Muhammad’ Abduh. Menurutnya, Beban yang berat disini semakna dengan beban yang berat itu adalah beban psikologis yang diakibatkan oleh keadaan umat yang diyakini beliau berada dalam jurang kebinasaan,tapi beliau tidak mengetahui apa jalan keluar yang tepat.kandungan kata dhallan yang terdapat pada surat Adh-dhuha, sedangkan keringanan yang beliau peroleh sama dengan kandungan kata hada dalam surat tersebut. Pendapat inilah hemat penulis paling tepat.
  
TAFSIR IBNU KATSIR AL- QUR’AN SURAT AL- INSYIRAH AYAT 2- 3(5)

Artinya: Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu(2) yang memberatkan punggungmu ? (3)
            Firman Allah Ta’ala, “Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu,”adalah semakna dengan firman Allah Ta’ala,”supaya Allah memberikan ampunan kepadamu akan dosa yang telah enkau perbuat dahulu dan kemudian. ”Selanjutnya firman Allah Ta’ala, ”yang memberatkan punggungmu?” yaitu yang  bebannnya telah memberatkan dirimu. Firman Allah Ta’ala, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. ” Yaitu, Aku tidak pernah disebut melainkan engkau pun disebut bersama-Ku, “Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah.”




5 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 (Jakarta, 2000), hlm. 1004-1006
Hasan bin Tsabit berkata dalam bait kasidahnya,
“kemilau cahaya Allah bagi Nabi penutup,
Cahaya itu semburat dan dan terlihat
Tuhan menyatukan nama Nabi dengan NamaNya
Dalam syahadad pada adzan lima kali
Namanya diambil dari namaNya, untuk mengagungkannya
Maka Pemilik Arsy adalah Mahmud,
Sedang yang ini Muhammad”.

PERSAMAAN TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL- QURAN SURAT AL INSYIRAH AYAT 2- 3
Tafsir Al- Misbah dan Ibnu Katsir tentang ayat ini sama – sama menjelaskan bahwa beban yang yang berat sudah diturunkan oleh Allah swt. Maksud dari beban yang berat disini adalah kesusahan- kesusahan yang dialami Nabi ketika menyampaikan risalah kepada umat.

PERBEDAAN TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL- QURAN SURAT AL INSYIRAH AYAT 2- 3
Perbedaan dalam mengartikan, sekalipun maknanya sama namun memakai istilah yang berbeda. Tafsir Al- Misbah menggunakan kata: ”Dan kami telah menanggalkan darimu bebanmu yang memberatkan punggungmu”.Sedangkan Tafsir Ibnu Katsir menggunakan kata: Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu(2) yang memberatkan punggungmu ? (3).                 Dalam tafsir Al- Misbah, diijelaskan secara rinci apa yang dimaksd dengan beban misalnya: “dan, di samping itu, Kami juga telah menanggalkan darimu bebabnmu yang selama ini engkau pikul dan yang engkau rasakan sangat memberatkan punggungmu”, menegaskan bahwa pertanyaan ayat pertama surat ini tidak dimaksudkan sebagai pertanyaan, tetapi tentang telah dilapangkannya dada Nabi Muhammad saw.
Ada sesuatu yang amat berat dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian diringankan.
Beban yang berat disini semakna dengan beban psikologis yang diakibatkan oleh keadaan umat yang diyakini beliau berada dalam jurang kebinasaan, tapi beliau tidak mengetahui apa jalan keluar yang tepat sedangkan . Di dalam tafsir Ibnu Katsir tidak dijelaskan secara rinci maksud dari beban, Beliau hanya mengaitkan ayat ini dengan ayat lain yang sama maknanya, misalnya : Perbedaan dalam mengartikan, sekalipun maknanya sama namun memakai istilah yang berbeda, misalnya:
“dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu” dimaknai sama dengan Firman Allah “supaya Allah memberikan ampunan kepadamu akan dosa yang telah engkau perbuat dahulu dan kemudian”. Jadi, menghilangkan beban disini dimaknai dengan memberikan ampunan akan dosa yang telah diperbuat dahulu.
“yang memberatkan punggunggmu?” Yaitu yang bebaannya telah memberatkan dirimu.

HUBUNGAN AL- QURAN AL- INSYIRAH AYAT 2- 3 DENGAN PSIKOLOGI
Ayat Al- Qur’an Al- Insyirah 2- 3 ini,  menjelaskan tentang beban berat yang dipikul oleh manusia. Ayat ini dalam pemaparannya telah menggunakan permisalan dari prinsip mekanika beban, dimana punggung merupakan daerah yang mendapatkan tenaga. Daerah yang mendapatkan tenaga dalam prinsip mekanika beban disebut stress. Dalam  perpeksif  psikologi, ayat ini berkaitan dengan psikologi klinis yang membahas tentang beban (pada punggung) setiap individu yang dapat diartikan sebagai stres, yang menggambarkan masalah berat yang dihadapi oleh manusia. Pengertian stress di dalam psikologi klinis adalah fenomena psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial, serta dapat memberikan beberapa pengaruh negatif terhadap individu(6). Negatifnya adalah menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, yang memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.

KESIMPULAN
1.      AL- MISBAH
·         Beban yang amat berat dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW
·         Beban yang berat bisa diringankan
·         Beban adalah anugerah dari Allah
·         Beban yang berat adalah beban psikologis
2.      IBNU KATSIR
·         Beban diartikan sebagai memberikan ampunan terhadap dosa- dosa yang telah lalu
6 Johana E. Prawitasari, Psikologi Klinis Pengantar Terapan dan Mikro (Jakarta, 2011), hlm. 75-80

3.      PSIKOLOGI
·         Stress adalah fenomena psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial, serta dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap individu.
·         Positifnya: mendorong individu melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru.
·         Negatifnya: menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, yang memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa salah satu ayat Al-Qur’an telah menjelaskan tentang beban atau stress sehingga dapat dikatakan sebelum adanya pembahasan stress dalam psikologi klinis  beberapa ayat Al-Qur,an telah menjelaskan tentang bagaimana pemaparan stress.















DAFTAR PUSTAKA

Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1999. Kemudahan dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2. JAKARTA: GEMA INSANI PRESS.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 2000. Kemudahan dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu              Katsir Jilid 4. JAKARTA: GEMA INSANI PRESS.
Prawitasari, Johana E. 2011. PSIKOLOGI KLINIS PENGANTAR TERAPAN DAN MIKRO. JAKARTA: ERLANGGA.
Shihab, M. Quraish. 2002. TAFSIR AL MISHBAH volume 6. JAKARTA: LENTERA HATI.
Shihab, M. Quraish. 2002. TAFSIR AL MISHBAH volume 15. JAKARTA: LENTERA HATI.
Sujanto, Agus., Drs. Halem Lubis., Drs. Taufik Hadi. 1991. PSIKOLOGI KEPRIBADIAN. JAKARTA: BUMI AKSARA.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar