Hubungan Surat
Ar’Rad Ayat 11 dan Surat
Al-Insyirah Ayat 2-3 yang Berkaitan dengan Psikologi
Makalah
Ditujukan untuk memenuhi
Tugas Mata Kuliah
Studi Qur’an

Dosen
Pembimbing
Rudy
Al Hana, M.Ag
DisusunOleh
Husna
Sholihah ( J71214041 )
Putri
Nilam Sari ( J71214066 )
Putri
Pamungkas ( J71214068 )
PRODI
PSIKOLOGI
FAKULTAS
PSIKOLOGI dan KESEHATAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2014
TAFSIR AL-QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11
TAFSIR AL
MISBAH SURAT AR’RAD AYAT 11(1)

Artinya : Ada
baginya pengikut-pengikut yang bergiliran, dihadapannya dan dibelakangnya;
mereka menjganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan
suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila
Allah mengkehendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Allah
menjadikan para mu’aqqibat itu melakukan apa yang ditugaskan kepadanya yaitu
memelihara manusia, sebagaimana dijelaskan di atas karena Allah telah
menetapkan bahwa Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka, yakni
kondisi kejiwaan/sisi dalam mereka,
seperti mengubah kesyukuran menjadi kekufuran, ketaatan menjadi kedurhakaan,
iman menjadi penyekutuan Allah, dan ketika itu Allah akan mengubah ni’mat (nikmat) menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi
kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan, dan seterusnya. Ini adalah satu
ketetapan pasti yang kait-mengkait. Demikian lebih kurang Thabathaba’i.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu
kaum, “secara panjang lebar penulis uraikan dalam buku Secercah Cahaya Ilahi.
Disana antara lain penulis kemukakan bahwa paling tidak ada dua ayat dalam Al –
Qur’an yang sering diungkap dalam
konteks perubahan social, yaitu firman-Nya dalam QS. Al – Anfal (8): 53
“Yang demikian itu (siksaan yang terjadi terhadap
Firaun dan rezimnya) disebabkan karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang
telah dianugerahkannya kepada satu kaum, sampai mereka sendiri mengubah apa
yang terdapat dalam diri mereka” dan ayat yang kedua adalah ayat yang sedang
ditafsirkan ini.
1 M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah (Jakarta, 2002), hlm. 227-237
Kedua
ayat diatas berbicara tentang perubahan, tetapi ayat pertama berbicara tentang
perubahan nikmat, sedang ayat kedua yang menggunakan kata mal apa berbicara
tentang perubahan
apapun, yakni baik dari ni’mat atau sesuatu yang
positif menuju ke niqmat/murka Ilahi atau sesuatu yang negative maupun
sebaliknya dari negative ke postif.
Ada
beberapa hal yang perlu di garisbawahi menyangkut kedua ayat diatas.
Pertama, ayat – ayat tersebut berbicara tentang
perubahan social, bukan perubahan individu. Ini dipahami dari penggunaan kata qauml
masyarakat pada ayat tersebut. Selanjutnya, dari sana dapat ditarik
kesimpulan bahwa perubahan social tidak dapat dilakukan oleh seorang mannusia
saja. Memang, boleh saja bermula dari seseorang yang ketika ia melontarkan atau
menyebarluaskan ide – idenya, diterima dan menggelinding dalam masyarakat. Pola
pikir dan sikap perorangan itu “menular” kepada masyarakat
luas, lalu sedikit demi sedikit “mewabah” kepada masyarakat luas.
Kedua,
penggunaan kata “qaum” juga menunjukkan bahwa hukum kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin atau satu
suku, ras dan agama tertentu, tetapi ia berlaku umum, kapan dan dimanapun
mereka berada. Selanjutnya, karena ayat tersebut berbicara tentang kaum, ini berarti
sunnatullah yang dibicarakan ini berkaitan dengan kehidupan duniawi, bukan
ukhrawi. Pertanggunggjawaban pribadi baru akan terjadi di akhirat kelak,
berdasarkan firmanNya:
“Setiap mereka akan datang menghadap
kepada-Nya sendiri – sendiri” (QS.Maryam(19):95)
Ketiga,
kedua ayat tersebut berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pelaku yang pertama
adalah Allah SWT yang mengubah nikmat yang dianugerahkanNya kepada suatu
masyarakat atau apa saja yang dialami oleh suatu masyarakat, atau katakanlah,
sisi luarnya / lahiriah masyarakat. Sedang, pelaku kedua adalah manusia, dalam
hal ini masyarakat yang melakukan perubahan pada sisi
dalam mereka atau dalam istilah kedua ayat diatas ma bi anfusihiml apa yang
terdapat dalam diri mereka. Perubahan yang terjadi akibat campur tangan Allah
atau yang diistilahkan oleh ayat diatas dengan ma bi yaumin menyangkut banyak
hal, seperti kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kemuliaan atau
kehinaan, persatuan atau perpecahan, dll yang berkaitan dengan masyarakat
secara umum, bukan secara individu. Sehingga bisa saja ada diantara anggotanya
yang kaya, tetapi jika mayoritasnya miskin, masyarakat tersebut dinamai
masyarakat miskin, demikian seterusnya.
Keempat,
kedua ayat itu juga menekankan bahwa perubahan yang dilakukan Allah haruslah
didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut sisi dalam
mereka. Tanpa perubahan ini, mustahil akan terjadi perubahan social. Karena
itu, boleh saja terjadi perubahan penguasa atau bahkan sistem, tetapi jika sisi
dalam masyarakat tidak berubah, keadaan akan tetap bertahan sebagaimana
sediakala. Jika demikian, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam pandangan Al
– Quran yang paling pokok guna keberhasilan perubahan sosial adalah perubahan
sisi dalam manusia karena sisi dalam manusialah yang melahirkan aktivitas, baik
positif maupun negative, dan bentuk, sifat, serta corak aktifitas itulah yang
mewarnai keadaan masyarakat apakah positif atau negative.
Sisi dalam manusia dinamai nafs, bentuk jamaknya anfus dan sisi luar yang dinamainya antara lain
jism yang dijamak ajsam. Sisi dalam tidak selalu sama dengan sisi luar. Ini
diketahui dan terlihat dengan jelas pada orang – orang munafik (baca QS. Al –
Munafiqun (63):4). Jika kita diibaratkan nafs dengan sebuah wadah, nafs adalah
wadah besar yang di dalamnya ada kota / wadah berisikan segala sesuatu yang
disadari oleh manusia. Al – Quran menamai “kotak” itu qalbu. Apa – apa yang
telah dilupakan manusia namun sesekali dapat muncul dan yang dinamai oleh
ilmuwan “bawah sadar” juga berada di dalam wadah nafs, tetapi diluar wilayah
“kalbu”.
Banyak
hal yang dapat ditampung oleh nafs, namun dalam konteks perubahan (pada nafs)
penulis menggaris bawahi tiga hal pokok.
Pertama, nilai – nilai yang dianut dan dihayati oleh
masyarakat. Setiap nafs mengandung nilai – nilai, baik positif maupun negative,
paling tidak nafs mengandung hawa nafsu yang mendorong manusia kepada
kebinasan. Nilai – nilai yang mampu mengubah masyarakat harus sedemikian jelas
dan mantap. Tanpa kejelasan dan kemantapan, ia tidak akan menghasilkan sesuatu
pada sisi luar manusia karena yang mengarahkan dan melahirkan aktifitas manusia
adalah nilai – nilai yang dianutnya. Dan nilai – nilai itulah yang memotivasi gerak langkahnya dan yang melahirkan akhlak baik
ataupun buruk.
Apabila
suatu masyarakat masih mempertahankan nilai – nilainya, perubahan sistem,
apalagi sekedar perubahan penguasa tidak akan menghasilkan perubahan
masyarakat. Di sisi lain semakin luhur
dan tinggi suatu nilai, semakin luhur dan tinggi pula yang dapat dicapai,
sebaliknya semakin terbatas, semakin terbatas pula pencapaiannya. Sekuralisme
atau pandangan kekinian dan kedisinian, pencapaiannya sangat terbatas, sampai
disini dan kini saja, sehingga menjadikan penganutnya hanya memandang masa
kini, dan pada gilirannya menghasilkan budaya mumpung. Kekinan dan kedisinian
juga menghasilkan kemandekan di samping menjadikan orang – orang yang memiliki
pengaruh dan kekuasaan dapat bertindak sewenang – wenang. Nilai yang diajarkan
islam adalah Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Dia sangat luhur lagi
langgeng sehingga perjuangan mencapai keluhuran tidak pernah akan mandek,
apalagi Allah menjanjikan untuk menambah anugerahNya untuk mereka yang telah
mendapat anugerah.
“Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah
mendapat petunjuk. Dan amal – amal saleh yang kekal lebih baik di sisi Tuhanmu
dan lebih baik kesudahannya” (QS. Maryam [19]:76), dan
“Jika kamu bersyukur pasti kutambah
(anugerah-Ku) untuk kamu” (QS. Ibrahim [14]:7)
Kedua,
menyangkut sisi dalam manusia yaitu iradah, yakni tekad dan kemauan keras.
Ibn Taimiyah(12), ketika menjawab pertanyaan tentang hakikat azam dan
iradah, menjawab lebbih kurang sebagai berikut: “Iradah / tekad yang kuat
itulah yang menghasilakan aktifitas bila disertai dengan kemampuan. Karena itu,
apabila iradah yang mantap telah dimiliki dan disertai dengan kemampuan
sempurna pasti wujud pula aktifitas yang dikehendaki karena ketika itu telah
terpenuhi secara sempurna syarat dan tersingkirkan pula penghalangnya.”
Apabila
ada iradah dan kemampuan juga telah sempurna, sedang apa yang diharapkan tidak
terpenuhi, yakinlah bahwa ketika itu iradah belum sempurna.
Iradah
lahir dari nilai – nilai atau ide- ide yang ditawarkan dan diseleksi oleh akal.
Jika akal sehat, ia akan memilih dan memilih dan melahirkan iradah yang baik,
demikian pula sebaliknya. Semakin jelas nilai- nila yang ditawarkan serta
semakin cerah akal yang menyeleksinya semakin kuat pula iradah- nya.
Iradah
yang dituntun oleh Islam adalah yang mengantar manusia berhubungan serasi
dengan Tuhan, alam, sesamanya, dan dirinya sendiri. Dengan kata lain yaitu,
kehendak yang kuat untuk mewujudkan nilai- nilai tauhid dengan segala
tuntunannya. Semakin kukuh iradah, semakin bersedia seseorang untuk berkorban
dengan jwa dan hartanya. Karena itu, ketakutan dan kekikiran bertentangan
dengan iradah, sebaliknya keberanian dan kedermawanan adalah bukti iradah yang
kuat.
Ketiga,
menyangkut kemampuan. Kemampuan terdiri dari kemampuan fisik dan kemampuan non
fisik, yang dalam konteks perubahan social dapat dinamai kemampuan pemahaman.
Suatu masyarakat yang wilayahnya mempunyai kekayaan materi, tidak dapat bangkit
mencapai kesejahteraan lahir dan batin, tanpa memiliki kemampuan dalam bidang
pemahaman ini. Kemampuan pemahaman ini dinamai oleh filosof muslim kontemporer,
Malik Ibn Nabi, sebagai al- Manthiq al- ‘Amalyl Logika Praktis. Kemampuan
pemahaman mengantar seseorang/ masyarakat mengelola sesuatu dengan baik dan
benar dan menuntunnya agar menggunakan kemampuan materialnya secara baik dan
benar pula. Sebaliknya, hilangnya kemampuan pemahaman akan mengakibatkan
hilangnya kemampuan material. Bahkan, jika kemampuan pemahaman tidak dimiliki,
lambat laun iradah akan terkikis dan ketika itu yang terjadi adala kepasrahan
kepada nasib, atau iradah beralih kepada hal lain yang mutunya lebih rendah. Kemampuan
pemahaman yang dibicarakan diatas tempatnya juga pada sisi dalam
manusia.
“Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya” adalah penegasan tentang kandungan
penggalan sebelumnya tentang sunnatullah bagi terjadinya perubahan, khususnya
dari positif menjadi negative. Yakni tidak ada satu
kekuatanpun yang dapat menghalangi berlakunya ketentuan sunnatullah itu.
Penggalan ini menguatkan sekali hakikat yang berulang – ulang ditegaskan oleh
Al – Quran bahwa segala sesuatu kembal kepada pengaturan Allah dan kehendakNya.
Sementara ulama menjadikan penggalan terakhir ayat ini
sebagai alasan untuk menyatakan bahwa perubahan yang dimaksud oleh ayat ini
adalah perubahan dari positif ke negative saja. Bukan perubahan dari negative
ke positif. Pendapat ini kurang tepat, sebagaimana telah dijelaskan diatas
ketika menguraikan arti ma bi qaumin. Bahwa penutup ayat ini hanya berbicara
tentang keburukan yang menimpa kaum karena konteks ayat berbicara tentang orang
– orang kafir yang meminta agar siksa disegerakan (baca ayat 6)
Ayat
diatas, disamping meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap manusia karena
darinya dipahami bahwa kehendak Allah atas manusia yang telah Dia tetapkan
melalui sunah – sunah-Nya berkait erat dengan kehendak dan sikap manusia.
Disamping tanggung jawab itu, ayat ini juga menganugerahkan kepada manusia
penghormatan manusia yang demikian besar. Betapa tidak? Bukankah ayat ini
menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan Allah atas manusia tidak akn terjadi
sebelum manusia terlebih dahulu melangkah. Demikian sikap dan kehendak manusia
menjadi “syarat” yang mendahului perbuatan Allah SWT. Sungguh ini merupakan
penghormatan yang luar biasa.
TAFSIR IBNU KATSIR AL QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11(2)

Artinya : Bagi
manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan
di beelakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Seseungguhnya Allah
tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum,
maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada perlindungan dari
mereka selain Dia.
2 Muhammad Nasib
Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 (Jakarta,
1999), hlm. 903-906
Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah yang ada pada
diri mereka sendiri.” Ibnu Abi Hati meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata:
Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi Bani Israel: Katakanlah kepada
kaummu, “Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah suatu rumah yang berada
dalam ketaatan kepada Allah, kemudia mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap
Allah melainkan Allah mengalihkan diri mereka apa yang mereka cintai kepada apa
yang mereka benci.” Kemudian Ibrahim berkata: Pembenaran atas pernyataan itu
terdapat dalam kitab Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu
kaum sehingga mereka mengubah pada yang ada pada diri mereka sendiri.”
PERSAMAAN
TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11
Tafsir
Al Misbah dan Ibnu Katsir memiliki kesamaan dalam menafsirkan Al Qur’an Surat
Ar’Rad ayat 11. Sebgaimana telah dijelaskan “Allah
tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada
diri mereka” yaitu kondisi kejiwaan/sisi
dalam mereka, seperti mengubah kesyukuran menjadi kekufuran, ketaatan
menjadi kedurhakaan, iman menjadi penyekutuan Allah, dan ketika itu Allah akan
mengubah ni’mat (nikmat) menjadi niqmat (bencana), hidayah menjadi
kesesatan, kebahagiaan menjadi kesengsaraan, dan seterusnya. Ini adalah satu
ketetapan pasti yang kait-mengkait.
PERBEDAAN
TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL-QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11
Tafsir Al Misbah dan Ibnu Katsir
memiliki perbedaan dalam menafsirkan Al Qur’an Surat Ar’Rad ayat 11. Letak
perbedaan yang dapat terlihat jelas adalah pada terjemahnya. Pada Tafsir Al
misbah menggunakan kata “Ada baginya
pengikut-pengikut yang bergiliran, dihadapannya dan dibelakangnya;
mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan
apabila Allah mengkehendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang
dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Sedangkan pada Tafsir Ibnu Katsir menggunakan kata “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan dibelakangnya. Mereka menjaganya atas
perintah Allah. Seseungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya, dan sekali-kali tidak ada perlindungan dari mereka selain Dia.”
Pada
Tafsir Al Misbah dijelaskan secara rinci mengenai berbagai macam perubahan. Pertama, ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan social tidak
dapat dilakukan oleh seorang mannusia saja. Memang, boleh saja bermula dari
seseorang yang ketika ia melontarkan atau menyebarluaskan ide – idenya,
diterima dan menggelinding dalam masyarakat. Pola pikir dan sikap perorangan itu “menular” kepada masyarakat
luas, lalu sedikit demi sedikit “mewabah” kepada masyarakat luas. Kedua, penggunaan kata “qaum” juga menunjukkan bahwa hukum kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi kaum
muslimin atau satu suku, ras dan agama tertentu, tetapi ia berlaku umum, kapan
dan dimanapun mereka berada. Ketiga, ayat tersebut berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pelaku yang
pertama adalah Allah SWT yang mengubah nikmat yang dianugerahkanNya kepada
suatu masyarakat atau apa saja yang dialami oleh suatu masyarakat. Pelaku kedua adalah manusia, dalam hal ini masyarakat yang melakukan perubahan pada sisi dalam mereka. Keempat, ayat itu juga menekankan bahwa perubahan
yang dilakukan Allah haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh
masyarakat menyangkut sisi dalam mereka. Tanpa perubahan ini, mustahil akan
terjadi perubahan social. Namun pada Tafsir Ibnu Katsir rinciannya sangat sedikit dan
isinya adalah riwayat. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata:
Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi Bani Israel: Katakanlah kepada
kaummu, “Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah suatu rumah yang berada
dalam ketaatan kepada Allah, kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan
terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan diri mereka apa yang mereka cintai
kepada apa yang mereka benci.” Kemudian Ibrahim berkata: Pembenaran atas
pernyataan itu terdapat dalam kitab Allah, “Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah pada yang ada
pada diri mereka sendiri”.
HUBUNGAN AL
QUR’AN SURAT AR’RAD AYAT 11 DENGAN PSIKOLOGI
Dalam Psikologi dikenal bermacam-macam pelatihan dan metode
pengembangan pribadi (Personal Growth)(3). Pengembangan pribadi adalah
usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam
mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadarann
bahwa manusia sebagai “the self determining being” memiliki kemampuan untuk
menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya
menjadi lebih baik lagi. Prinsip ini tanpaknya sesuai dengan prinsip mengubah
nasib yang terungkap dalam QS Ar’Rad ayat
11.
3 Agus Sujanto,
Drs. Halem Lubis, Drs. Taufik Hadi, Psikologi Kepribadian (Jakarta, 1991), hlm.
27-30
Artinya :” Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan
suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Salah satu
kegiatan pengembangan pribadi adalah Pelatihan Menemukan
Makna Hidup yang kiranya dapat dimodifikasikan untuk merancang program
pelatihan Menuju Kepribadian Muslim.
Pelatihan
Menemukan Makna Hidup ini didasari oleh prinsip Panca Sadar, yakni :
1.
Sadar akan citra diri yang diidam idamkan.
2.
Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri sendiri.
3.
Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari
lingkungan sekitar.
4.
Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi.
5.
Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri teladan
Selain prinsip
prinsip tersebut di atas dalam proses
pelatihan ini perlu dipahami benar pendekatan, metode dan teknik-teknik
pengembangan pribadi yang disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”, yakni :
1.
Pemahaman Diri.
2.
Bertindak Positif.
3.
Pengakraban Hubungan.
4.
Pendalaman dan Penerapan Tri Nilai.
5.
Ibadah.
Pemahaman Diri:
mengenali secara objektif kekuatan kekuatan dan kelemahan kelemahan diri
sendiri, baik yang masih merupakan potensi maupun yang sudah teraktualisasi,
untuk kemudian kekuatan kekuatan itu dikembangkan dan ditingkatkan serta
kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.
Bertindak
Positif: mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan
tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal hal yang dianggap baik dan bermanfaat.
Pengakraban
Hubungan: meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu (missalnya
anggota keluarga, teman, rekan sekerja), sehingga masing masing saling
mempercayai, saling memerlukan satu dengan lainnya, serta saling membantu.
Pendalaman Tri
Nilai: Berusaha untuk memahami dan memenuhi tiga macam nilai yang dianggap merupakan sumber makna hidup, yaitu:
1.
Nilai kreatif (Kerja, karya).
2.
Nilai Penghayatan (kebenaran, keindahan, kasih, iman).
3.
Nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap
derita yang tak dapat dihindari lagi)
Ibadah:
berusaha melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa
yang dilarangNya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasan tentram,
mantap, dan tabah, serta tak jarang pula menimbulkan perasaan seakan akan
mendapat bimbingan dan petunjukNya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Kelima metode
tersebut tujuannya untuk menjajagi sumber makna hidup dari kehidupan sehari
hari dan lingkungan sekitarnya. Makna hidup ini bila ditemukan dan berhasil
dipenuhi diharapkan mendatangkan perasaan bermakna dan bahagia yang semuanya
merupakan cerminan probadi yang mantap dan sehat. Pendekatan inidapat
difungsikan dalam peatihan “Menuju Keprbadian Muslim”.
KESIMPULAN
1.
Tafsir Al
Misbah
Pada Tafsir Al
Misbah dapat diambil kesimpulan bahwa disamping
meletakkan tanggung jawab yang besar terhadap manusia karena darinya dipahami
bahwa kehendak Allah atas manusia yang telah Dia tetapkan melalui sunah –
sunah-Nya berkait erat dengan kehendak dan sikap manusia. Disamping tanggung
jawab itu, ayat ini juga menganugerahkan kepada manusia penghormatan manusia
yang demikian besar. Ayat ini menegaskan bahwa perubahan yang
dilakukan Allah atas manusia tidak akan terjadi sebelum manusia terlebih dahulu
melangkah. Demikian sikap dan kehendak manusia menjadi “syarat” yang mendahului
perbuatan Allah SWT.
2.
Tafsir Ibnu
Katsir
Pada Tafsir Ibnu Katsir dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada
penduduk suatu negeri yang berada dalam ketaatan Allah kemudian mereka beralih
kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan diri mereka apa
yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci. Maksudnya adalah segala
perubahan yang baik maupun buruk itu adalah atas kehendak kita
sendiri/perbuatan kita sendiri. Ketika kita menjadi buruk, itu bukan kehendak
Allah yang menjadikan kita buruk, namun itu hasil dari apa yang telah kita
lakukan. Jadi tidak ada campur tangan Allah dalam merubah nasib bila kita belum
merubahnya sendiri.
3.
Psikologi
Pada Psikologi Kepribadian dapat diambil kesimpulan bahwa kita
dapat mengubah nasib kita dengan berbagai cara/metode. Untuk berubah kita akan
melewati tahap-tahap. Yaitu menggunakan teknik pengembangan pribadi yang
disebut “Panca Cara Pengembangan Pribadi”. Pertama, dengan melakukan pemahaman
diri. Kedua, dengan cara bertindak positif. Ketiga, dengan pengakraban
hubungan. Keempat, dengan melakukan pendalaman dan penerapan Tri Nilai (Nilai
Kreatif,Nilai Penghayatan,Nilai Bersikap). Kelima, dengan Ibadah. Kelima metode
ini menjajahi sumber makna hidup dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan
sekitarnya. Dan apabila telah menemukan makna hidup maka akan menimbulkan rasa
senang dan bahagia yang semuanya merupakan cerminan pribadi yang mantap dan
sehat. Sehingga akan memantapkan kepribadian muslim kita untuk selalu menjadi
lebih baik.
Jadi, bagi umat
islam usaha pengembangan pribadi ini benar benar sudah dipermudah dengan adanya
anugerah Tuhan berupa sarana sarana yang sangat vital untuk pengembangan
pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah tuntutan Al Qur’an yang maha benar
dengan al Hadist sebagai petunjuk pelaksanaannya, ibadah-ibadah yang dapat
mempertinggi derajat kerohanian dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa
manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu
mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan
panutan umat, yaitu Nabi Muhammad SAW sendiri yang dimasyhurkan memilki Akhlak al
Qur’an, keluhuran budi
pekertinya mendapat pujian langsung dari Tuhan , dan memperbaiki
akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya
TAFSIR AL – QUR’AN SURAT AL – INSYIRAH AYAT
2 - 3
TAFSIR AL
MISBAH SURAT AL- INSYIRAH AYAT 2 – 3(4)

Artinya :”Dan kami telah menanggalakan darimu bebanmu
yang memberatkan punggungmu”.
Disamping
anugerah kemudahan yang akan diperoleh nabi Muhammad SAW, ayat diatas
melanjutkan bahwa: Dan, disamping itu, Kami juga telah menanggalkan
darimu bebanmu yang selama ini engkau pikul dan yang engkau rasakan
sangat memberatkan punggungmu.
Kata wadha’na/
Kami telah menanggalkan berbentuk kata kerja masa lampau. Bentuk demikian
menjadi alasan yang kuat dari pendapat yang menyatakan bahwa ”pertanyaan” ayat
pertama surat ini tidak dimaksudkan sebagai pertanyaan, tetapi penegasan
tentang dilapangkannya dada Nabi Muhammad SAW. Intinya adalah, ketika turunnya
surat ini “dada Rasul sangat lapang dan jiwa nya amat tenang”.
Disebutkannya
kelapangan dada sebagai anugerah Allah tidak harus dan tidak hanya
mungkin disebabkan adanya “keluh kesah” menyangkut misi dakwah,tetapi dapat
juga disebabkan oleh faktor lain. Menurut sekian banyak riwayat yang
dikemukakan oleh banyak ahli tafsir , antara lain Ibnu Katsir, bahwasannya
menjelang turunnya ayat-ayat surat ini Nabi Muhammad SAW membanding-bandingkan
keadaannya dengan keadaan para nabi terdahulu, kemudian mengajukan suatu permohonan
yang sebenarnya “kecil“ dibandingkan dengan anugerah yang telah diperolehnya. Nah,
ketika itu turun ayat-ayat ini. Dari riwayat ini jelas tidak ada keluh kesah
menyangkut dakwah. Riwayat ini justru menguatkan kesan yang ditimbulkan oleh
kata laka yang telah dikemukakan diatas, yakni anugerah yang diperoleh
nabi Muhammad SAW merupakan anugerah khusus dan melebihi anugerah yang telah
diterima oleh nabi-nabi sebelumnya.
4 M. Quraish
Shihab, Tafsir Al Misbah (Jakarta, 2002), hlm. 411-413
Kata wadha’a mempunyai banyak arti, antara lain
meletakkan, merendahkan, meringankan, meremehkan dan sebagainya.Pada
umumnya,Al-Qur’an menggunakan kata tersebut menyangkut sesuatu yang berkaitan
dengan hal-hal yang berat-material atau immaterial-kemudian menjadi
ringan dan enteng seperti, misalnya seorang ibu yang melahirkan anak (baca
antara lain QS.Ali’Imran (3):36)atau
gencatan senjata setelah peperangan (Baca QS. Muhammad [47] :4).
Kata wizr
pada mulanya berarti gunung. Gunung memberi kesan sesuatu yang berat dan besar
– bahkan demikian itulah hakikatnya. Hakikat makna yang dikandung itu menjadi tumpuan
semua arti kata-kata yang berakar padanya, misalnya wazir/menteri karena
ia memikul tanggung jawab yang besar dan berat, demikian pula juga kata wizr
yang berarti dosa karena yang berdosa merasakan didalam jiwanya sesuatu yang
berat berbeda halnya dengan kebajikan, disamping itu dosa akan menjadi sesuatu
yang sangat berat dipikul oleh pelakunya dihari kemudian.
Ayat
ini mengisyaratkan bahwa sebelum turunya ayat diatas ada sesuatu yang amat
berat dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian diringankan. Berat beban itu
dilukiskan oleh lanjutan ayat tersebut.
Kata anqadha
terambil dari kata naqidh. Beban berat yang dipikul dengan menggunakan
kayu tua bambu seringkali melahirkan suara yang terdengar bersumber dari alat
pikul itu. Suara tersebut dinamai naqidh. Ayam betina ketika selesai
bertelur, biasanya berkotek, itu dilukiskan dengan kalimat Intaqadhat
ad-dajajah.
Dari
ayat ini dapat diketahui betapa berat beban yang dipikul oleh nabi Muhammad SAW
sampai-sampai punggung beliau bersuara seperti suara kayu atau
bamboo yang dilukiskan diatas. Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang beban itu. Karenanya,
timbul berbagai pendapat ulama, antara lain:
1. Wafat nya istri beliau Khadijah r.a dan paman beliau
Abu Thalib.
2. Beratnya wahyu Al-Qur’an yang beliau terima (Baca QS
Al-Hasyr [59]:21).
3. Keadaan masyarakat pada masa Jahiliah.
Penulis tidak cenderung menerima pendapat pertama
karena ,walaupun wafatnya kedua pendukung utama beliau itu merupakan suatu
beban yang cukup berat,bukankah semua orang dapat mengalami hal yang serupa dan
dapat pula pada akhirnya melampaui krisis semacam itu? Rasanya kecil beban
tersebut untuk dicatat dalam Al-Qur,an sebagai anugerah Allah SWT kepada
beliau, apalagi bila dibandingkan dengan anugerah yang dikandung oleh ayat
pertama dan ayat keempat berikut.Demikian juga dengan pendapat kedua
Karena,sampai akhir hayat beliau wahyu-wahyu yang diterimanya selalu merupakan
wahyu-wahyu yang “berat “dan tidak jarang mencucurkan keringat,bahkan menjadikan
rambut beruban sebagaimana yang beliau akui sendiri,”Surat Hud menjadikan
aku tua,” demikian pengakuan Rasul.
Pendapat
ketiga dikemukakan antara lain oleh Syaikh Muhammad’ Abduh. Menurutnya, Beban
yang berat disini semakna dengan beban yang berat itu adalah beban psikologis
yang diakibatkan oleh keadaan umat yang diyakini beliau berada dalam jurang
kebinasaan,tapi beliau tidak mengetahui apa jalan keluar yang tepat.kandungan
kata dhallan yang terdapat pada surat Adh-dhuha, sedangkan keringanan
yang beliau peroleh sama dengan kandungan kata hada dalam surat
tersebut. Pendapat inilah hemat penulis paling tepat.
TAFSIR IBNU KATSIR AL- QUR’AN SURAT AL- INSYIRAH AYAT 2- 3(5)

Artinya: Dan kami telah menghilangkan darimu
bebanmu(2) yang memberatkan punggungmu ? (3)
Firman
Allah Ta’ala, “Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu,”adalah semakna
dengan firman Allah Ta’ala,”supaya Allah memberikan ampunan kepadamu akan dosa
yang telah enkau perbuat dahulu dan kemudian. ”Selanjutnya firman Allah Ta’ala,
”yang memberatkan punggungmu?” yaitu yang bebannnya telah memberatkan dirimu. Firman
Allah Ta’ala, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. ” Yaitu, Aku tidak pernah
disebut melainkan engkau pun disebut bersama-Ku, “Aku bersaksi bahwa Tidak ada
Tuhan selain Allah.”
5 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 4 (Jakarta, 2000), hlm. 1004-1006
Hasan bin Tsabit berkata dalam bait kasidahnya,
“kemilau cahaya Allah bagi Nabi penutup,
Cahaya itu semburat dan dan terlihat
Tuhan menyatukan nama Nabi dengan NamaNya
Dalam syahadad pada adzan lima kali
Namanya diambil dari namaNya, untuk mengagungkannya
Maka Pemilik Arsy adalah Mahmud,
Sedang yang ini Muhammad”.
PERSAMAAN
TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL- QURAN SURAT AL INSYIRAH AYAT 2-
3
Tafsir Al- Misbah dan Ibnu Katsir tentang
ayat ini sama – sama menjelaskan bahwa beban yang yang berat sudah diturunkan
oleh Allah swt. Maksud dari beban yang berat disini adalah kesusahan- kesusahan
yang dialami Nabi ketika menyampaikan risalah kepada umat.
PERBEDAAN
TAFSIR AL MISBAH DENGAN TAFSIR IBNU KATSIR AL- QURAN SURAT AL INSYIRAH AYAT 2-
3
Perbedaan dalam mengartikan, sekalipun
maknanya sama namun memakai istilah yang berbeda. Tafsir Al- Misbah menggunakan
kata: ”Dan kami telah menanggalkan darimu bebanmu yang memberatkan punggungmu”.Sedangkan
Tafsir Ibnu Katsir menggunakan kata: Dan kami telah menghilangkan darimu
bebanmu(2) yang memberatkan punggungmu ? (3). Dalam tafsir Al- Misbah, diijelaskan secara
rinci apa yang dimaksd dengan beban misalnya: “dan, di samping itu, Kami juga
telah menanggalkan darimu bebabnmu yang selama ini engkau pikul dan yang engkau
rasakan sangat memberatkan punggungmu”, menegaskan bahwa pertanyaan ayat
pertama surat ini tidak dimaksudkan sebagai pertanyaan, tetapi tentang telah
dilapangkannya dada Nabi Muhammad saw.
Ada sesuatu yang amat berat dirasakan oleh Nabi
Muhammad SAW, kemudian diringankan.
Beban yang berat disini semakna dengan beban
psikologis yang diakibatkan oleh keadaan umat yang diyakini beliau berada dalam
jurang kebinasaan, tapi beliau tidak mengetahui apa jalan keluar yang tepat
sedangkan . Di dalam tafsir Ibnu Katsir tidak dijelaskan secara rinci maksud
dari beban, Beliau hanya mengaitkan ayat ini dengan ayat lain yang sama
maknanya, misalnya : Perbedaan dalam mengartikan, sekalipun maknanya sama namun
memakai istilah yang berbeda, misalnya:
“dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu” dimaknai
sama dengan Firman Allah “supaya Allah memberikan ampunan kepadamu akan dosa
yang telah engkau perbuat dahulu dan kemudian”. Jadi, menghilangkan beban
disini dimaknai dengan memberikan ampunan akan dosa yang telah diperbuat
dahulu.
“yang memberatkan punggunggmu?” Yaitu yang bebaannya
telah memberatkan dirimu.
HUBUNGAN AL- QURAN AL- INSYIRAH AYAT 2- 3
DENGAN PSIKOLOGI
Ayat Al- Qur’an Al- Insyirah 2- 3 ini, menjelaskan tentang beban berat yang dipikul
oleh manusia. Ayat ini dalam pemaparannya telah menggunakan permisalan dari
prinsip mekanika beban, dimana punggung merupakan daerah yang mendapatkan
tenaga. Daerah yang mendapatkan tenaga dalam prinsip mekanika beban disebut
stress. Dalam perpeksif psikologi, ayat ini berkaitan dengan
psikologi klinis yang membahas tentang beban (pada punggung) setiap individu
yang dapat diartikan sebagai stres, yang menggambarkan masalah berat yang
dihadapi oleh manusia. Pengertian stress di dalam psikologi klinis adalah fenomena
psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal
jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial, serta dapat memberikan beberapa pengaruh negatif terhadap individu(6). Negatifnya adalah
menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, yang memicu
munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah
tinggi, atau stroke.
KESIMPULAN
1. AL- MISBAH
·
Beban yang amat berat dirasakan oleh Nabi
Muhammad SAW
·
Beban yang berat bisa diringankan
·
Beban adalah anugerah dari Allah
·
Beban yang berat adalah beban psikologis
2. IBNU KATSIR
·
Beban diartikan sebagai memberikan ampunan
terhadap dosa- dosa yang telah lalu
6 Johana E. Prawitasari, Psikologi Klinis Pengantar Terapan dan Mikro
(Jakarta, 2011), hlm. 75-80
3. PSIKOLOGI
·
Stress adalah fenomena
psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal
jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial, serta dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap individu.
·
Positifnya: mendorong individu melakukan
sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru.
·
Negatifnya: menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi,
yang memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia,
tekanan darah tinggi, atau stroke.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa salah satu ayat
Al-Qur’an telah menjelaskan tentang beban atau stress sehingga dapat dikatakan
sebelum adanya pembahasan stress dalam psikologi klinis beberapa ayat Al-Qur,an telah menjelaskan
tentang bagaimana pemaparan stress.
DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 1999. Kemudahan
dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2. JAKARTA: GEMA
INSANI PRESS.
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib. 2000. Kemudahan
dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4. JAKARTA: GEMA
INSANI PRESS.
Prawitasari, Johana E. 2011. PSIKOLOGI
KLINIS PENGANTAR TERAPAN DAN MIKRO. JAKARTA: ERLANGGA.
Shihab, M. Quraish.
2002. TAFSIR AL MISHBAH volume 6. JAKARTA: LENTERA
HATI.
Shihab, M. Quraish. 2002. TAFSIR
AL MISHBAH volume 15.
JAKARTA: LENTERA HATI.
Sujanto, Agus., Drs. Halem Lubis., Drs.
Taufik Hadi. 1991. PSIKOLOGI KEPRIBADIAN. JAKARTA: BUMI AKSARA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar