Kamis, 17 Desember 2015

Proses Koordinasi dan Pengendalian Saraf

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
                        Tubuh manusia dilengkapi berbagai sistem untuk mengatur segala gerak-gerik setiap harinya, Saat kita jatuh akan terasa sakit karena indra kita menangkap setiap rangsangan, rangsangan tersebut akan disalurkan ke otak.
           Tubuh manusia dilengkapi tiga perangkat pengatur kegiatan tubuh yang terdiri dari syaraf, endokrin(hormon), dan pengindraan. Sistem saraf bekerja dengan cepat untuk menanggapi adanya perubahan lingkungan yang merangsangnya. Pengaturan sistem dilakukan oleh benang-benang saraf, sistem hormon mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal, reproduksi dan tingkah laku. Hormon bekerja jauh lebih lambat tetapi teratur dan beraturan dalam jangka waktu yang lama. Dalam pengangkutan hormon dilakukan melalui pembuluh darah, dan alat indra merupakan reseptor rangsang dari luar.













BAB II
PEMBAHASAN

MEKANISME KOORDINASI DAN PENGENDALIAN SISTEM SARAF

A.    MEKANISME KOORDINASI DAN PENGENDALIAN PADA SEL SARAF

Otak manusia mengatur dan mengkoordinir, gerakan, perilaku, dan fungsi tubuh, homeostatis seperti tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan cairan, keseimbangan hormonal, mengatur emosi, ingatan, aktivitas motorik, dll.
Otak terbentuk dari 2 jenis sel :
1.      Glia : berfungsi untuk menunjang dan melindumgi neuron
2.      Neuron : berfungsi membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang dikenal sebagai potensial aksi.
Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang dikenal sebagai sinapsis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3.1 : Hubungan antar neuron


Neurotransmitter yang paling mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku seseorang yang ada antara lain asetilkolin, dopamine, serotonim, epinefrin, norepinefrin. Fungsi masing-masing neurotransmitter dapat dilihat pada table dibawah ini:

Neurotransmitter
Lokasi
Fungsi
Kolinergik :
Asetil Kolin

Sistem saraf otonom simpatis dan parasimpatis, terminal saraf presinapsis parasimpatik, terminal postsinapsis
Sistem saraf pusat : Korteks serebral hipokampus, struktur limbik, basal ganglia


Tidur
Bangun
Persepsi nyeri
Pergerakan otot
Monoamin:
Norepinefrin







Dopamin




Serotonin




Histamin

Sistem saraf otonom terminal saraf post sinapsis simpatis
Sistem saraf pusat : talamus, sistem limbik, hipokampus, serebelum, korteks serebri

Frontal korteks, sistem limbik, basal ganglia, talamus, hipofisis posterior, medula spinalis

Hipotalamus, Talamus, Sistem Limbik, Korteks serebral, Serebelum, Medula Spinalis

Hipotalamus


Pernafasan
Pikiran
Persepsi
Daya Penggerak
Fungsi Kardiovaskuler
Tidur
Bangun

Pergerakan dan Koordinasi
Emosional
Penilaian
Pelepasan prolaktin

Tidur
Bangun
Libido
Nafsu makan

Menurunkan derajat depresi
Asam Amino:
GABA (Gamma Amino Butyric Acid)



Glutamat dan Asparat


Hipotalamus, Hipokampus, Korteks, Serebelum, Basal Ganglia, Medula Spinalis, Retina

Sel-sel piramid/kerucut dari korteks, serebelum dan sistem sensori aferen primer, hipokampus, talamus, hipotalamus, medula spinalis


Kemunduran aktivitas tubuh



Menilai informasi sensori
Megatur berbagai motor dan reflek spinal
Neuropeptida:
Endofrin dan Enkefalin





Substansi P







Somastotanin


Hipotalamus, talamus, struktur limbik dan batang otak, enkedalin juga ditemukan pada traktus gastrointensial

Hipotalamus struktur limbik otak tengah, batang otak, talamus, basal ganglia, dan modula spinalis, juga ditemukan pada traktus gastrointestinal dan kelenjar sativa

Korteks serebral, Hipokampus, Talamus, Basal ganglia, Batang otak, Medula Spinalis


Modulasi (mengatur) nyeri dan mengurangi peristaltik (enkefalin)



Pengaturan nyeri







Menghambat pelepasan norepinefrin, merangsang pelepasan serotonin, dopamin dan asetil kolin


B.     MEKANISME KOORDINASI PENGENDALIAN PADA OTAK

1.      Sistem Motorik
Sistem motorik merupakan sistem yang mengatur segala gerakan pada manusia. Gerakan diatur oleh pusat gerakan yang terdapat di otak, diantaranya yaitu area motorik di korteks, ganglia basalis dan cerebellum.
Jaras untuk sistem motorik itu ada 2 yaitu :
1.      Traktus pyramidal : merupakan jaras motorik utama yang pusatnya di girus presentralis (area 4 broadmann), yang disebut juga korteks motorik primer.
Implus motorik dari pusat motorik disalurkan melalui traktus pyramidal ke saraf perifer menuju ke otot. Area motorik lain yang terletak didepan korteks motorik primer adalah korteks premotorik (area 6 broadmann). Area ini merupakan area asosiasi korteks motorik yang membangkitkan pola gerakan untuk disampaikan ke korteks motorik primer. Contoh orang tertusuk duri  -sensasi diteruskan ke korteks sensorik, dianalisa—korteks sensorik asosiasi, diterjemahkan – korteks premotorik, program dan pola – korteks motorik primer, eksekusi gerakan—otot, kontraksi. Kerusakan korteks motorik primer atau traktus pyramidal dapat menyebabkan paralysis (kelumpuhan) ataupun parese (kelemahan gerakan).
2.      Traktus ekstrapyramidal atau sistem ekstrapyramidal. Jaras ini melibatkan ganglia basalis dan berfungsi untuk mengatur gerakan volunteer kasar dan tidak terampil, seperti mengendalikan posisi berdiri, gerakan tangan pada waktu berjalan, gerak lambaian tungkai dan lengan. Kerusakan pada ganglia basalis dapat menimbulkan gangguan gerak seperti gejala-gejala pada penyakit Parkinson (kekuatan otot atau rigiditas, tremor, akinesia), hemibalismus, chorea, dan atetosis.

Bagian otak yang juga penting pada pengaturan gerakan adalah cerebellum (otak kecil). Cerebellum sangat penting untuk mengatur ketepatan dan kelancaran koordinasi aktivitas motorik volunteer. Gangguan cerebellum akan menyebabkan: postur tubuh buruk, tidak seimbang dan ataksia (kehilangan koordinasi gerak), langkah kaki lebar dan gontai seperti orang mabuk, bicara cadel, gerakan volunteer diikuti dengan gemetaran dan dismeterial.
Gambar 3.2 : Area Broadmann


2.      Sistem Sensorik
      Sistem sensorik pada manusia berhubungan dengan kemampuan mempersepsi suatu rangsang. Sistem ini sangat penting karena berfungsi terutama untuk proteksi tubuh. Sistem ini dapat juga dimaknai sebagai perasaan tubuh atau sensibilitas


a.       Reseptor
Reseptor adalah sel atau organ yang berfungsi menerima rangsang atau stimulus. Menurut letaknya reseptor dibagi menjadi :
Ø  Exteroseptor : perasaan tubuh permukaan (kulit) seperti sensasi nyeri, suhu, dan raba.
Ø  Prioseptor : perasaan tubuh dalam, seperti pada otot, sendi, dan tendo
Ø  Interoseptor : perasaan tubuh pada alat-alat visceral atau alat-alat dalam seperti jantung, lambung, usus, dll.Menurut tipe atau jenis stimulus reseotor dibagi menjadi :
Ø  Mekanoreseptor : kelompok reseptor sensorik untuk mendeteksi perubahan tekanan, memonitor tegangan pada pembuluh darah, mendeteksi rasa raba atau sentuhan. Letaknya dikulit, otot rangka, persendian DNA organ visceral. Contoh reseptornya: corpus Meissner (untuk rasa raba ringan), corpus merkel dan badan paccini (untuk sentuhan dan rasa).
Ø  Termoreseptor : reseptor sensoris untuk mendeteksi perubahan sendi. Contohnya bulbus Krause (untuk suhu dingin), dan akhiran Ruffini (untuk suhu panas).
Ø  Nociseptor : reseptor sensorik untuk mendeteksi rasa nyeri dan merespon tekanan yang dihasilkan oleh adanya kerusakan jaringan akibat trauma fisik maupun kimia. Contoh reseptornya berupa akhiran saraf bebas (untuk rasa nyeri) dan corpusculum Golgi (untuk tekanan).
Ø  Chemoreseptor : reseptor sensorik untuk mendeteksi rangsang kimiawi, seperti : bau-bauan yang diterima sel reseptor olfaktorius dalam hidung, rasa makanan yang diterima oleh sel reseptor pengecap di lidah. Reseptor kimiawi dalam pembuluh darah untuk mendeteksi oksigen, osmoreseptor untuk mendeteksi perubahan osmolalitas cairan darah, glucoreseptor, dihipotalamus mendeteksi perubahan kadar gula darah.
Ø   Photoreseptor : Reseptor sensorik untuk mendeteksi perbahan cahaya dan dilakukan leh sel photoreceptor (batang dan kesrucut) di retina mata.


b.      Rasa gabungan (combined sensation)
Rasa gabungan atau dikenal juga dengan istilah rasa somestesia luhur adalah perasaan tubuh yang mempunyai sifat diskriminatif dan sifat tiga dimensi. Rasa gabungan melibatkan komponen kortikal yaitu lobus parietalis untuk menganalisi serta mensintesis tiap jenis perasaan, mengkorelasi serta mangintegrasi impuls, mengenal dan menginterpretasi rangsang. Jadi yang diutamakan disini adalah fungsi persepsi dan fungsi diskriminatif. Yang termasuk rasa gabungan diantaranya yaitu :
Ø  Rasa diskriminasi : rasa ini melibatkan kemampuan taktil dari kulit, dan terdiri dari : diskriminasi intensitas (kemampuan taktil dari kulit, dan terdiri dari : diskriminasi, intensitas (kemampuan menilai kekuatan stimulus seperti tekanan benda ke permukaan kulit) dan diskriminasi spasial atau diskriminasi : (kemampuan membedakan lokasi atau titik asal rangsang).
Ø  Barognosia : kemampuan untuk mengenal berat benda yang dipegang
Ø  Stereognosia : kemampuan untuk mengenal bentuk benda dengan meraba tanpa melihat.
Ø  Topognosia (Topostesia) : kemampuan untuk melokalisasi tempat dari rasa raba.
Ø  Grafestesia : kemampuan untuk mengenal huruf atau angka yang ditulis pada kulit dengan mata tertutup.

c.       Jaras somatosensorik
Jaras somatosensorik yang dilalui oleh sistem sensorik adalah sebagai berikut untuk rasa permukaan (eksteroseptif) seperti rasa nyeri, raba, tekan dan suhu : sinyal diterima reseptor—dibawa ke ganglion spinale—melalui radiks posterior menuju cornu posterior medulla spinalis—berganti menjadi neuron sensoris ke-2—lalu menyilang ke sisi lain medulla spinalis—membentuk jaras yang berjalan ke atas yaitu traktus spinotalamikus---menuju thalamus di otak--- berganti menjadi neuron sensoris ke-3---menuju ke korteks somatosensorik di girus postsentralis (lobus parietalis).

3.      Sistem Retikuler
Seluruh daerah perpanjangan batang otak yaitu medulla, pons, dan mesensefalon merupakan daerah yang mengandung kumpulan neuron-neuron yang tersebar dan dikenal sebagai formasio retikularis. Perangsanan listrik secara tersebar pada daerah mesensefalon dan pontile formasio retikularis dapat menimbulkan aktivitas yang segera dan jelas pada korteks cerebri dan bahkan dapat membangunkan binatang yang sedang tidur. Seluruh sistem ini disebut sistem aktivasi retikuler. Sistem ini berhubungan dengan proses aktivasi otak sehingga dapat menimbulkan keadaan siaga (waspada) ataupun sebaliknya menimbulkan keadaan tidur. Stimulus utama yang dapat meningkatkan aktivitas sistem retikuler :
Ø  Stimulus sensorik dari sebagian besar tubuh, seperti : impuls sakit, impuls somatic proprioseptif
Ø  Stimulus retrograde dari cerebrum, yang terutama akan merangsang bagian mensensefalon formasio retikularis. Jika seseorang sedang tidur dan tiba-tiba ada sinyal sensorik yang sesuai masuk ke dalam sistem aktivasi retikuler, maka orang tersebut akan segera terbangun. Keadaan ini disebut ‘reaksi terbangun’(arousal reaction). Perangsangan sistem aktivasi retikuler oleh korteks cerebri akan dijalarkan melewati jaras-jaras serabut saraf yang menuju ke fomasio retikularis dari semua bagian cerebrum, yaitu : korteks somatosensorik, korteks motorik, korteks frontalis, ganglia basalis, hipokampus, hipotalamus, dan struktur limbic lainnya. Serabut saraf dari bagian motorik korteks cerebri yang menuju formasio retikularis cukup banyak, sehingga aktivitas motorik dikaitkan dengan adanya aktivasi retikuler yang sangat tinggi, inilah yang menerangkan pentingnya bergerak kian kemari agar seseorang tetap dalam keadaan siaga.

4.      Fungsi Kortikal ; korteks cerebri
Otak manusia paling berkembang hemisfer cerebri-nya dibanding makhluk lain. Korteks serebri merupakan bagian otak yang berhubungan dengan fungsi intelektual. Korteks cerebri terdiri dari 4 lobus yaitu : lobus frontalis, lobus parietalis, lobus temporalis, dan lobus oksipitalis.
Gambar 3.3 : Cerebrum dan keempat Lobusnya


Korteks cerebri mengandung + 100 milyar neuron terdiri dari 3 tipe sel yaitu stellata, fusiform, dan pyramidal yang masing-masing mempunyai axon dan dendrite yang membentuk sinaps. Tiap bagian dari korteks mempunyai fungsi spesifik yang dalam kerjanya akan berintegrasi sehingga menghasilkan suatu aktivitas tubuh.
Berdasarkan fungsi dan histologisnya Broadmann membagi korteks menjadi 47 area. Beberapa area yang terkenal diantaranya : area 4 dan 6 (area motorik dan premotorik), area 17, 18, dan 19 (area penglihatan primer dan asosiasi), area 41 dan 42 (area pendengaran primer dan asosiasi).
Gambar 3.4: Korteks Cerebri dan rea Fungsionalnya


Kedua hemisfer cerebri tidak simetris baik dalam ukuran maupun fungsinya, masing-masing hemisfer mendapat rangsang atau menerima impuls dari sisi tubuh yang kontralateral. Hemisfer kiri dan kanan dihubungkan oleh corpus calosum.
     
Hemisfer (otak) kiri mempunyai ukuran yang lebih besar dan mengatur fungsi :
Ø  Berbahasa
Ø  Logika
Ø  Angka
Ø  Analisis
Ø  Daya ingat
Ø  Rasionalitas
Sedangkan hemisfer kanan mengatur fungsi :
Ø  Visuo-spatial
Ø  Intonasi/irama
Ø  Musik
Ø  Imajinasi/lamunan
Ø  Dimensi
Tiap bagian dari korteks cerebri ini saling berhubungan antar lobus dalam satu hemisfer melalui jaras asosiasi, dan antar hemisfer melalui jaras tranversa atau kommisural, sedangkan hubungan korteks cerebri dengan bagian otak di bawahnya sampai medulla spinalis melalui jaras proyeksi.




































BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Otak manusia mengatur dan mengkoordinir, gerakan, perilaku, dan fungsi tubuh, homeostatis seperti tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan cairan, keseimbangan hormonal, mengatur emosi, ingatan, aktivitas motorik, dll. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang dikenal sebagai sinapsis.
Sistem motorik merupakan sistem yang mengatur segala gerakan pada manusia. Gerakan diatur oleh pusat gerakan yang terdapat di otak, diantaranya yaitu area motorik di korteks, ganglia basalis dan cerebellum.
Sistem sensorik pada manusia berhubungan dengan kemampuan mempersepsi suatu rangsang. Sistem ini sangat penting karena berfungsi terutama untuk proteksi tubuh. Sistem ini dapat juga dimaknai sebagai perasaan tubuh atau sensibilitas.
Sistem aktivasi retikuler ini berhubungan dengan proses aktivasi otak sehingga dapat menimbulkan keadaan siaga (waspada) ataupun sebaliknya menimbulkan keadaan tidur.
Otak manusia paling berkembang hemisfer cerebri-nya dibanding makhluk lain. Korteks serebri merupakan bagian otak yang berhubungan dengan fungsi intelektual. Korteks cerebri terdiri dari 4 lobus yaitu : lobus frontalis, lobus parietalis, lobus temporalis, dan lobus oksipitalis.













DAFTAR PUSTAKA

1.      Nur Asiyah, Siti. 2014. Kuliah Psikologi Faal.Sidoarjo: Zifatama Publisher.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar