Kamis, 17 Desember 2015

Ukhuwwah Islamiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu sama lain dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok dalam bentuknya yang minimal, yang mengakui keberadaannya dan dimana dia dapat bergantung. Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri alamiah sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan yang dalam islam dikenal dengan istilah ukhuwah. Melihat minimnya pengetahuan tentang ukhuwah, keutamaan serta peranannya dalam islam dalam makalah ini akan dibahas secara singkat dan jelas tentang hal-hal yang berkaitan dengan ukhuwah islamiyah.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pengertian Ukhuwah Islamiyah
Kata Ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Menurut Ibnu Kholdun, Manusia adalah  makhluk sosial yang cenderung ingin berkumpul dengan manusia yang lain[1]. Keinginan ini ada karena kita butuh orang lain yang bisa membantu kita. Apalagi kalau orang -orang tadi adalah saudara kita sendiri kita akan lebih nyaman minta tolong. Islam sendiri telah mengatur bagaimana membina persaudaraan antar umatnya, yaitu dengan ukhwuah Islamiyah. Menurut Hasan Al Banna, Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan Aqidah[2].
Ukhuwah merupakan suatu karunia, cahaya dan  nikmat yang dipancarkan Allah dalam lubuk hati seorang hamba yang penuh ikhlas dalam beramal. Para insan pilihan dan yang bertakwa. Secara tegas Allah SWT menggambarkan perihal mereka[3] : “Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Q.S. Al-Anfaal : 63). Dalam ayat  lain ditegaskan : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada  tali agama Allah,dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu pada masa jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Q.S. Ali ‘Imran : 103).
Ukhuwah (Persaudaraan) merupakan kekuatan iman dan spiritual yang menimbulkan kasih sayang amat dalam dan cinta kasih, kemuliaan dan saling percaya terhadap sesama. Yakni yang terdapat dalam ikatan akidah, iman dan  takwa. Jadi, ukhuwah islamiyah merupakan salah satu aspek iman dan takwa. Iman tak sempurna tanpa ukhuwah, dan ukhuwah tidak ada artinya tanpa dilandasi keimanan. Takwa tidak akan sempurna tanpa ukhuwah dan  ukhuwahpun tidak ada maknanya tanpa diertai ketakwaan. Manakala ukhuwah terlepas dari kendali keimanan, maka yang menjadi  pengikatnya adalah  kepentingan  pribadi, kelompok dan golongan. Dan jelas akan memporak-porandakan arti ukhuwah yang hakiki, baik cepat maupun lambat.

B.     Keutamaan Ukhuwah Islamiyah
Ada beberapa keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam, diantaranya[4]:
1.      Ukhuwah menciptakan wihdah (persatuan)
Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah  heroik perjuangan para pahlawan bangsa negeri yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang bersama, tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada hanyalah keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan persatuan.
2.      Ukhuwah menciptakan quwwah (kekuatan)
Adanya perasaan ukhuwah dapat menciptakan kekuatan (quwwah) karena rasa persaudaraan atau ikatan keimanan yang sudah ditanamkan dapat menentramkan dan menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar sehingga ukhuwah yang telah terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat.
3.      Ukhuwah menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)
Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik pada akhirnya memunculkan rasa kasih sayang antar sesama saudara se-iman. Yang dulunya belum kenal sama sekali namun setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan bersama. Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam.

C.    Landasan Ukhuwah Islamiyah
Dalam mewujudkan  ukhuwah  islamiyah harus dipenuhi beberapa persyaratan dan landasan ideal. Allah akan menerima ukhuwah islamiyah sebagai bentuk  ibadah manakala dilakukan lewat jalur yang  proposional. Landasan pokok dan persyaratan yang harus dilaksanakan dalam  pelaksanaan ukhuwah islamiyah diketengahkan dalam pembahasan ini secara rinci[5] :
1.      Semata-mata karena Allah
Ukhuwah Islamiyah bisa terwujud dengan baik makala orang-orang yang terlibat didalamnya mampu membebaskan diri dari kepentingan dan keuntungan pribadi. Mengutamakan kemaslahatan umum diatas kepentingan pribadi. Bersaudara atas motivasi mencari ridha Allah semata, dilaksanakan dengan penuh keikhlasan hati. Sama sekali tidak ada motivasi kebendaan dan keduniaan. Manakala hal ini telah terpenuhi dengan baik, maka eksis mereka ditengah masyarakat akan memberi dampat yang sangat positif.
2.      Disertai Iman dan Takwa
Ukhuwah Islamiyah bisa terwujud dengan baik manakala setiap mukmin memilih sahabat bergaul insan yang beriman dan bertakwa. Dalam kaitan ini banyak ayat Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW yang menegaskannya. Di antaranya Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujuraat : 10)
Manakala Ukhuwah Islamiyah dilaksanakan oleh insan beriman dan bertakwa, sudah barang pasti ikatan yang dijalin akan semakin kokoh dan kuat. Tak mudah goyah karena hempasan badai, baik iri hati, kemurkaan maupun perfitnahan yang dilontarkan pihak lawan.
3.      Iltizam dengan Manhaj Islam
Rasulullah SAW telah mengisyaratkan dengan sebuah hadist tentang dua orang yang saling mencintai, berpisah dan bertemu karena Allah. Mereka berjanji berkumpul dalam upaya memegang teguh syaariat agama Allah dan berpisah untuk mengamalkannya. Karena itu setiap kali para sahabat Rasulullah SAW berpisah dari satu majlis, salah seorang diantara mereka membacakan surat ‘Al-‘Ashr’ baru kemudian saling mengucapkan salam. Yakni Firman Allah SWT : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menepi kesabaran.” (Q.S. Al ‘Ashr : 1-3).
 Jadi, mereka berjanji setia untuk melaksanakann manhaj islam dalam mengarungi hidup keseharian. Atas dasar iman dan takwa mereka berjanji mengamalkan ilmu yang direalisasikan dalam bentuk amal shaleh. Amal yang hasilnya dapat dirasakan seluruh  lapisan masyarakat. Berjanji menahan emosi, bergaul dengan penuh keramahan dan kesabaran menghadapi cobaan.
4.      Nasehat karena Allah
Setiap insan beriman harus dapat dijadikan cermin bagi orang lain. Manakala seseorang melihat saudaranya melakukan kebajikan, hendaknya memberi motivasi agar dapat meningkatkan amal kebajikan tersebut. Sebaliknya, bila melihat saudaranya melakukan hal-hal yang kurang baik menurur kaca pandang agama, maka menasehatinya. Yakni dengan nasehat dan cara yang baik. Lebih-lebih kalau saudaranya melakukan kemaksiatan, segera memberi nasehat diam-diam dan menganjurkan agar segera bertaubat kepada Allah, kembali kepada ajaran agama yang benar. Cara yang demikian akan melahirkan tolong menolong yang mengandung berbagai keutamaan dan kemuliaan, menjauhkan diri dari segala bentuk kehinaan dan kenestapaan. Dan, secara otomatis memotivasi terwujudnya ukhuwah islamiyah yang ditegakkan di atas sendi dasar syariat islam.
Rasulullah SAW senantiasa membaiat para sahabat agar senantiasa berpegang teguh pada nasehat yang semata-mata ikhlas karena ridha Allah. Menjadi juru dakwah yang penuh keikhlasan dan ketulusan hati, petunjuk jalan yang baik, dan menjadi pahlawan dakwah dimana mereka berada dan kemanapun mereka berjalan. Menjujung tinggi panji syariat islam dalam situasi dan kondisi seperti apapun.
5.      Setia dalam segala kondisi
Kesetiaan dan tolong menolong dalam suka dan duka tidak bisa terwujud manakala diantara mereka tidak tumbuh rasa senasib sepenanggungan, bahagia dikenyam bersama dan dukapun dipikul bersama. Seiring sejalan, derap langkah dalam menghadapi tantangan dan menggapai kesuksesan. Manakala islam memerintahkan tolong menolong dikalangan kaum muslimin, sudah barang pasti tolong menolong didalam menegakkan agama Allah adalah lebih wajib.
Tolong menolong di jalan Allah pada dasarnya telah mengikat janji setia menjunjung tinggo kalimah dan hukum Allah. Yakni direalisasikan dalam bentuk ucapan dan perbuatan dalam hidup keseharian. Dan berjanji melaksanakan ajaran islam secara utuh dan penuh konsekuensi logis. Tidak akan melakukan penyimpangan sedikitpun dari garis ketentuan syariat. Tidak merasa berat dan menderita dalam menjunjung panji islam, melaksanakan manhaj islam dan akhlak karimah.  

D.    Hakikat Ukhuwah Islamiyah
Dalam Ukhuwah Islamiyah terdapat beberapa hakikat, yaitu[6]:
1.      Nikmat Allah (Q.S. Ali Imron:103)
Dan berpegang teguhlah kamusemuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
2.      Perumpamaan tali tasbih (Q.S. Az-Zukhruf :67)
Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhkan satu  sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
3.      Merupakan arahan Rabbani (Q.S. Al-Anfal :63)
dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
4.      Merupakan cermin kekuatan iman (Q.S. Al-Hujurat :10)
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah pada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

E.     Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah  bersifat temprorer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal : ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi)[7].

F.     Peringkat – peringkat  Ukhuwah Islamiyah
Dalam Ukhuwah Islamiyah terdapat berbagai macam peringkat. Dengan adanya peringkat ini dapat mengetahui sejauh mana keberadaan diri pada Ukhuwah Islamiyah[8] :
1.      Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)
2.      Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. 
Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.”(H.R. Muslim)
3.      Ta’awun adalah saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran
4.      Takaful (saling membebani) Setelah kita tolong menolong kita bisa saling tukar masalah, curhat.
5.      Itsar  adalah Orang yang sangat mencintai saudaranya akan rela mengorbankan apa saja untuk menolong saudaranya itu. Atau bahkan ia akan mau untuk memberikan bagiannya untuk si saudara.

G.    Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Banyak hal yang dapat menguatkan Ukhuwah Islamiyah, diantaranya[9]:
1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda : 'Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu didepannya. Orang yang di samping Rasulullah tadi berkata : `Aku mencintai dia, ya Rasulullah`. Lalu Nabi menjawab : `Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?` Orang tersebut menjawab : `Belum`. Kemudian Rasulullah bersabda:`Beritahukan kepadanya`. Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata ;`Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah`. Kemudian orang yang dicintai itu menjawab :`Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya." 
2. Memohon dido'akan bila berpisah
" Tidak seorang hamba mukmin berdo'a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata :'Dan bagimu juga seperti itu." (HR.Muslim) 
3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang datang dari saudaramu), Dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan." (HR.Muslim) 
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
"Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah." (HR.Abu Daud dari Barra') 
5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
Imam Malik meriwayatkan : Berkata Nabi bahwa Allah berfirman:"Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, dimana keduanya saling berkunjung karena Aku dan saling memberi karena Aku." 
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
"Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati." (HR. Imam Dailami dari Anas) 
7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
"Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia pasti Allah akan meringankan beban penderitaan di akhirat kelak. Siapa yang memudahkan orang yang dalam dalam keadaan susah pasti Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudar-Nya." (HR. Muslim) 
8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
"Hak seorang muslim atas muslim ada enam, yaitu jika bertemu maka ucapkan salam kepadanya, jika diundang maka penuhilah, jika dinasehati maka nasehati pulalah dia, jika bersin maka doakanlah, jika sakit kunjungilah dan jika meninggal maka antarkanlah ke kubur." (HR. Muslim dan Abu Hurairah) 
9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
"Barangsiapa mengucapkan selamat kepada saudaranya ketika saudaranya mendapat kebahagiaan niscaya Allah menggembirakannya pada hari kiamat." (HR. Thabrani)

H.    Buah Ukhuwah Islamiyah
Nilai tambah dan keutamaan ukhuwah islamiyah, diantaranya dapat diketengahkan[10] :
1.      Wajah Berseri
Orang-orang yang membina ukhuwah dan berkasih sayang semata-mata mencari ridha Allah wajahnya akan memancarkan sinar (wibawa). Berpenampilan ceria, banyak senyum dan berseri. Supelbergaul, ramah tidak angker tetapi tetap berwibawa.
2.      Mendapat Ampunan Dosa
Rasulullah SAW bersabda :
      “Apabila seorang muslim bertemu dengan saudaranya kemudian berjabat tangan, maka dosa-dosanya gugur sebaimana gugurnya dedaunan dari pohon keting ditiup angin kencang. Dosa mereka berdua mendapat ampunan Allah, sekalipun sebanyak buih di samudera.” (H.R. Tharbani)
3.      Berada dalam  Naungan ‘Arsy
Rasulullah SAW bersabda :
      “Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang-orang yang memadu cinta kasih karena keagungan-Ku? Pada  hari ini Aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku, hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (H.R. Muslim)
Mereka termasuk juga dalam kategori tujuh golongan yang mendapat lindungan Allah SWT pada hari dimana tidak ada perlindungan kecuali lindungan-Nya. Ketika di akherat, manusia akan berada di suatu tempat yang panas dan terbuka, tak ada penolong atau tempat berteduh kecuali 7 golongan yang dilindungi Allah, yaitu
- Pemimpin yang adil
- Pada dasarnya kita semua adalah pemimpin, minimal memimpin diri kita sendiri (QS 5:8)
- Pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid
- Pemuda yang taat beribadah kepada Allah
- Orang yang berkasih sayang di jalan Allah
- Laki-laki yang bisa menahan dirinya dari gangguan wanita karena takut kepada Alah
- Orang yang bersedekah karena semata-mata mengharap ridho Allah
- Orang yang selalu mengingat Allah
Yakni sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
      “Dan orang yang saling mencintai karena mencari ridha Allah. Keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena-Nya pula” (H.R. Bukhari dan Muslim)
4.      Dalam naungan kasih Allah
Rasulullah SAW bersabda :
      “Orang yang memadu cinta kasih karena Aku, pasri akan mendapat cinta kasih-Ku. Saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku pula.”
5.      Berada di surga dalam ridha Allah
Rasulullah SAW bersabda :
      Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ia akan dipanggil Allah : “Berbahagialah langkahmu, dan kami telah menyediakan tempat tinggalmu di syurga.” (H.R. Tirmidzi)
6.      Merasakan  manisnya iman
Rasulullah SAW bersabda :
      “Tiga perkara barangsiapa memilikinya ia akan merasakan manisnya iman : Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaannya kepada yang lain, cinta kepada orang lain karena Allah, dan membenci kekafiran sebagimana ia merasa benci dicampakkan ke dalam amuk api neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah diatas adalah potret keutamaan ukhuwah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan merupakan keutamaan paling penting bagi mereka yang meniti perjalanan menciptakan ukhuwah islamiyah dan berenang dalam bahtera hamba Allah yang hakiki.






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari penjelasan singkat di atas dapat kita simpulkan betapa pentingnya ukhuwah dalam mempertahankan dan menyatukan umat islam yang saat ini sudah mulai mengalami disintegrasi yang dilatar belakangi oleh berbagai perbedaan kepentingan terutama dalam dunia politik. Dengan ukhuwah kita bisa merasakan manisnya iman, berada di bawah naungan cinta Allah, dilindungi Arasy Al-Rahman, diampunkan dosa, bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan Allah dan menjadi ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah Saw. Bersabda: Artinya: "Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, 'Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga." (HR. Imam Al-Tirmizi).











DAFTAR PUSTAKA

Ulwan, Abdullah Nashih. 1989. Merajut Keping-Keping Ukhuwah. Solo : CV. Ramadhani.
Mauliana, Farid. 2004. Supermentoring Junior. Bandung : PT. Syamil Cipta Media.
Mauliana, Farid. 2004. Sepermentoring Senior 2. Bandung : PT. Syamil Cipta Media.
As-sissi, Abbas. 1994. Da’wah dan Tarbiyah. Bandung : Quds Press.
Noferiyanto. 2012. Dahsyatnya Mentoring. Solo : PT. Era Adicitra Intermedia.



[1] Farid Mauliana, Sepermentoring Junior (Bandung, 2004), hlm. 1.
[2] Farid Mauliana, Sepermentoring Senior 2 (Bandung, 2004), hlm. 65,
[3] Abdullah Nashih Ulwan, Merajut Keping-Keping Ukhuwah (Solo, 1989), hlm. 11.
[4] Ibid., hlm. 18-24.
[5] Ibid., hlm. 27-42.
[6] Abbas as-Sissi, Dakwah dan Tarbiyah (Bandung, 1994), hlm. 41-47.
[7] Farid Mauliana, op. cit.,  hlm. 3.
[8] Noferiyanto, Dahsyatnya Mentoring (Solo, 2012), hlm. 263-270.

[9] Farid Mauliana, op. cit., hlm. 5-8.
[10] Abdullah Nashih Ulwan, op. cit., hlm. 17-25.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar