BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia adalah
makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki
karakter yang unik, yang berbeda satu sama lain dengan fikiran dan kehendaknya
yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan
sebuah kelompok dalam bentuknya yang minimal, yang mengakui keberadaannya dan
dimana dia dapat bergantung. Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri
alamiah sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan yang dalam islam dikenal
dengan istilah ukhuwah. Melihat minimnya pengetahuan tentang ukhuwah, keutamaan
serta peranannya dalam islam dalam makalah ini akan dibahas secara singkat dan
jelas tentang hal-hal yang berkaitan dengan ukhuwah islamiyah.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A. Pengertian
Ukhuwah Islamiyah
Kata Ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya
dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai
saudara). Menurut Ibnu Kholdun, Manusia adalah makhluk sosial yang
cenderung ingin berkumpul dengan manusia yang lain[1].
Keinginan ini ada karena
kita butuh orang lain yang bisa membantu kita. Apalagi kalau orang -orang tadi
adalah saudara kita sendiri kita akan lebih nyaman minta tolong. Islam sendiri telah mengatur bagaimana
membina persaudaraan antar umatnya, yaitu dengan ukhwuah Islamiyah. Menurut
Hasan Al Banna, Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu
sama lain dengan ikatan Aqidah[2].
Ukhuwah merupakan
suatu karunia, cahaya dan nikmat yang
dipancarkan Allah dalam lubuk hati seorang hamba yang penuh ikhlas dalam
beramal. Para insan pilihan dan yang bertakwa. Secara tegas Allah SWT
menggambarkan perihal mereka[3]
: “Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan
yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan
tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Q.S. Al-Anfaal : 63). Dalam
ayat lain ditegaskan : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah,dan janganlah kamu
bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu pada
masa jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Q.S. Ali
‘Imran : 103).
Ukhuwah
(Persaudaraan) merupakan kekuatan iman dan spiritual yang menimbulkan kasih
sayang amat dalam dan cinta kasih, kemuliaan dan saling percaya terhadap
sesama. Yakni yang terdapat dalam ikatan akidah, iman dan takwa. Jadi, ukhuwah islamiyah merupakan salah
satu aspek iman dan takwa. Iman tak sempurna tanpa ukhuwah, dan ukhuwah tidak
ada artinya tanpa dilandasi keimanan. Takwa tidak akan sempurna tanpa ukhuwah
dan ukhuwahpun tidak ada maknanya tanpa
diertai ketakwaan. Manakala ukhuwah terlepas dari kendali keimanan, maka yang
menjadi pengikatnya adalah kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Dan jelas akan
memporak-porandakan arti ukhuwah yang hakiki, baik cepat maupun lambat.
B. Keutamaan
Ukhuwah Islamiyah
Ada beberapa
keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam, diantaranya[4]:
1.
Ukhuwah
menciptakan wihdah (persatuan)
Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah heroik perjuangan para pahlawan bangsa negeri
yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu mempersatukan
para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang bersama,
tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada hanyalah
keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan
persatuan.
2.
Ukhuwah
menciptakan quwwah (kekuatan)
Adanya perasaan ukhuwah dapat menciptakan
kekuatan (quwwah) karena rasa persaudaraan atau ikatan keimanan yang sudah ditanamkan
dapat menentramkan dan menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar
sehingga ukhuwah yang telah terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha
dahsyat.
3.
Ukhuwah
menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)
Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah
yang telah terpatri dengan baik pada akhirnya memunculkan rasa kasih sayang
antar sesama saudara se-iman. Yang dulunya belum kenal sama sekali namun
setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan bersama. Inilah puncak tertinggi
dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam.
C. Landasan
Ukhuwah Islamiyah
Dalam mewujudkan ukhuwah islamiyah harus dipenuhi beberapa persyaratan
dan landasan ideal. Allah akan menerima ukhuwah islamiyah sebagai bentuk ibadah manakala dilakukan lewat jalur yang proposional. Landasan pokok dan persyaratan
yang harus dilaksanakan dalam pelaksanaan ukhuwah islamiyah diketengahkan
dalam pembahasan ini secara rinci[5]
:
1.
Semata-mata
karena Allah
Ukhuwah Islamiyah bisa terwujud dengan baik
makala orang-orang yang terlibat didalamnya mampu membebaskan diri dari
kepentingan dan keuntungan pribadi. Mengutamakan kemaslahatan umum diatas
kepentingan pribadi. Bersaudara atas motivasi mencari ridha Allah semata,
dilaksanakan dengan penuh keikhlasan hati. Sama sekali tidak ada motivasi
kebendaan dan keduniaan. Manakala hal ini telah terpenuhi dengan baik, maka
eksis mereka ditengah masyarakat akan memberi dampat yang sangat positif.
2.
Disertai
Iman dan Takwa
Ukhuwah Islamiyah bisa terwujud dengan baik
manakala setiap mukmin memilih sahabat bergaul insan yang beriman dan bertakwa.
Dalam kaitan ini banyak ayat Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW yang
menegaskannya. Di antaranya Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujuraat : 10)
Manakala Ukhuwah Islamiyah dilaksanakan oleh
insan beriman dan bertakwa, sudah barang pasti ikatan yang dijalin akan semakin
kokoh dan kuat. Tak mudah goyah karena hempasan badai, baik iri hati, kemurkaan
maupun perfitnahan yang dilontarkan pihak lawan.
3.
Iltizam
dengan Manhaj Islam
Rasulullah SAW telah mengisyaratkan dengan
sebuah hadist tentang dua orang yang saling mencintai, berpisah dan bertemu
karena Allah. Mereka berjanji berkumpul dalam upaya memegang teguh syaariat
agama Allah dan berpisah untuk mengamalkannya. Karena itu setiap kali para
sahabat Rasulullah SAW berpisah dari satu majlis, salah seorang diantara mereka
membacakan surat ‘Al-‘Ashr’ baru
kemudian saling mengucapkan salam. Yakni Firman Allah SWT : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menepi kesabaran.” (Q.S. Al ‘Ashr : 1-3).
Jadi, mereka berjanji setia untuk melaksanakann manhaj islam dalam mengarungi hidup keseharian. Atas dasar iman dan
takwa mereka berjanji mengamalkan ilmu yang direalisasikan dalam bentuk amal
shaleh. Amal yang hasilnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Berjanji menahan emosi,
bergaul dengan penuh keramahan dan kesabaran menghadapi cobaan.
4.
Nasehat
karena Allah
Setiap insan beriman harus dapat dijadikan
cermin bagi orang lain. Manakala seseorang melihat saudaranya melakukan
kebajikan, hendaknya memberi motivasi agar dapat meningkatkan amal kebajikan
tersebut. Sebaliknya, bila melihat saudaranya melakukan hal-hal yang kurang
baik menurur kaca pandang agama, maka menasehatinya. Yakni dengan nasehat dan
cara yang baik. Lebih-lebih kalau saudaranya melakukan kemaksiatan, segera
memberi nasehat diam-diam dan menganjurkan agar segera bertaubat kepada Allah,
kembali kepada ajaran agama yang benar. Cara yang demikian akan melahirkan
tolong menolong yang mengandung berbagai keutamaan dan kemuliaan, menjauhkan
diri dari segala bentuk kehinaan dan kenestapaan. Dan, secara otomatis
memotivasi terwujudnya ukhuwah islamiyah yang ditegakkan di atas sendi dasar
syariat islam.
Rasulullah SAW senantiasa membaiat para
sahabat agar senantiasa berpegang teguh pada nasehat yang semata-mata ikhlas
karena ridha Allah. Menjadi juru dakwah yang penuh keikhlasan dan ketulusan
hati, petunjuk jalan yang baik, dan menjadi pahlawan dakwah dimana mereka
berada dan kemanapun mereka berjalan. Menjujung tinggi panji syariat islam
dalam situasi dan kondisi seperti apapun.
5.
Setia
dalam segala kondisi
Kesetiaan dan tolong menolong dalam suka dan
duka tidak bisa terwujud manakala diantara mereka tidak tumbuh rasa senasib
sepenanggungan, bahagia dikenyam bersama dan dukapun dipikul bersama. Seiring
sejalan, derap langkah dalam menghadapi tantangan dan menggapai kesuksesan.
Manakala islam memerintahkan tolong menolong dikalangan kaum muslimin, sudah
barang pasti tolong menolong didalam menegakkan agama Allah adalah lebih wajib.
Tolong menolong di jalan Allah pada dasarnya
telah mengikat janji setia menjunjung tinggo kalimah dan hukum Allah. Yakni
direalisasikan dalam bentuk ucapan dan perbuatan dalam hidup keseharian. Dan
berjanji melaksanakan ajaran islam secara utuh dan penuh konsekuensi logis.
Tidak akan melakukan penyimpangan sedikitpun dari garis ketentuan syariat.
Tidak merasa berat dan menderita dalam menjunjung panji islam, melaksanakan
manhaj islam dan akhlak karimah.
D. Hakikat
Ukhuwah Islamiyah
Dalam
Ukhuwah Islamiyah terdapat beberapa hakikat, yaitu[6]:
1.
Nikmat Allah (Q.S. Ali Imron:103)
“Dan
berpegang teguhlah kamusemuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa
jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan
karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi
jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
2.
Perumpamaan tali tasbih
(Q.S. Az-Zukhruf :67)
“Teman-teman karib pada
hari itu saling bermusuhkan satu sama
lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
3.
Merupakan arahan Rabbani
(Q.S. Al-Anfal :63)
“dan Dia (Allah) yang
mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati
mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha
Perkasa, Maha Bijaksana.”
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah
antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah pada Allah agar kamu
mendapat rahmat.”
E. Perbedaan
Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah
Ukhuwah Islamiyah
bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam.
Ukhuwah Jahiliyah bersifat temprorer (terbatas pada waktu dan
tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal : ikatan keturunan [orang
tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan
pribadi)[7].
F. Peringkat – peringkat Ukhuwah Islamiyah
Dalam
Ukhuwah Islamiyah terdapat berbagai macam peringkat. Dengan adanya peringkat
ini dapat mengetahui sejauh mana keberadaan diri pada Ukhuwah Islamiyah[8] :
1.
Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal
antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT
(Q.S. Al Hujurat: 13)
2.
Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim
memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan
sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak
saudaranya yang harus ia tunaikan.
Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.”(H.R. Muslim)
Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.”(H.R. Muslim)
3.
Ta’awun adalah saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan
meninggalkan kemungkaran
4.
Takaful (saling
membebani) Setelah
kita tolong menolong kita bisa saling tukar masalah, curhat.
5.
Itsar adalah Orang yang sangat mencintai saudaranya akan rela
mengorbankan apa saja untuk menolong saudaranya itu. Atau bahkan ia akan mau
untuk memberikan bagiannya untuk si saudara.
G. Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Banyak hal yang dapat menguatkan Ukhuwah Islamiyah,
diantaranya[9]:
1.
Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa
Rasulullah bersabda : 'Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah
seorang sahabat berlalu didepannya. Orang yang di samping Rasulullah tadi
berkata : `Aku mencintai dia, ya Rasulullah`. Lalu Nabi menjawab : `Apakah kamu
telah memberitahukan kepadanya?` Orang tersebut menjawab : `Belum`. Kemudian
Rasulullah bersabda:`Beritahukan kepadanya`. Lalu orang tersebut memberitahukan
kepadanya seraya berkata ;`Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah`. Kemudian
orang yang dicintai itu menjawab :`Semoga Allah mencintaimu karena engkau
mencintaiku karena-Nya."
2.
Memohon dido'akan bila berpisah
" Tidak seorang hamba mukmin berdo'a untuk
saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata :'Dan bagimu juga seperti
itu." (HR.Muslim)
3.
Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang
datang dari saudaramu), Dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan
dia senyum kegembiraan." (HR.Muslim)
4. Berjabat
tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
"Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu
berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah."
(HR.Abu Daud dari Barra')
5.
Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
Imam Malik meriwayatkan : Berkata Nabi bahwa Allah
berfirman:"Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena
Aku, dimana keduanya saling berkunjung karena Aku dan saling memberi karena
Aku."
6.
Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
"Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena
hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati."
(HR. Imam Dailami dari Anas)
7.
Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
"Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang
mukmin di dunia pasti Allah akan meringankan beban penderitaan di akhirat
kelak. Siapa yang memudahkan orang yang dalam dalam keadaan susah pasti Allah
akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang
muslim pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya jika hamba
tersebut menolong saudar-Nya." (HR. Muslim)
8.
Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
"Hak seorang muslim atas muslim ada enam, yaitu jika
bertemu maka ucapkan salam kepadanya, jika diundang maka penuhilah, jika
dinasehati maka nasehati pulalah dia, jika bersin maka doakanlah, jika sakit
kunjungilah dan jika meninggal maka antarkanlah ke kubur." (HR. Muslim dan
Abu Hurairah)
9.
Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
"Barangsiapa mengucapkan selamat kepada saudaranya
ketika saudaranya mendapat kebahagiaan niscaya Allah menggembirakannya pada
hari kiamat." (HR. Thabrani)
H. Buah
Ukhuwah Islamiyah
Nilai tambah dan keutamaan ukhuwah islamiyah,
diantaranya dapat diketengahkan[10]
:
1.
Wajah
Berseri
Orang-orang yang membina ukhuwah dan berkasih sayang semata-mata mencari
ridha Allah wajahnya akan memancarkan sinar (wibawa). Berpenampilan ceria,
banyak senyum dan berseri. Supelbergaul, ramah tidak angker tetapi tetap
berwibawa.
2.
Mendapat
Ampunan Dosa
Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila
seorang muslim bertemu dengan saudaranya kemudian berjabat tangan, maka
dosa-dosanya gugur sebaimana gugurnya dedaunan dari pohon keting ditiup angin
kencang. Dosa mereka berdua mendapat ampunan Allah, sekalipun sebanyak buih di
samudera.” (H.R. Tharbani)
3.
Berada
dalam Naungan ‘Arsy
Rasulullah SAW bersabda :
“Allah
SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang-orang yang memadu cinta kasih
karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku
akan menaungi mereka dengan naungan-Ku, hari dimana tidak ada naungan kecuali
naungan-Ku.” (H.R. Muslim)
Mereka termasuk juga dalam kategori tujuh
golongan yang mendapat lindungan Allah SWT pada hari dimana tidak ada
perlindungan kecuali lindungan-Nya. Ketika
di akherat, manusia akan berada di suatu tempat yang panas dan terbuka, tak ada
penolong atau tempat berteduh kecuali 7 golongan yang dilindungi Allah, yaitu
- Pemimpin yang adil
- Pada dasarnya kita semua adalah pemimpin, minimal
memimpin diri kita sendiri (QS 5:8)
- Pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid
- Pemuda yang taat beribadah kepada Allah
- Orang yang berkasih sayang di jalan Allah
- Laki-laki yang bisa menahan dirinya dari gangguan
wanita karena takut kepada Alah
- Orang yang bersedekah karena semata-mata mengharap
ridho Allah
- Orang yang selalu mengingat Allah
Yakni
sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
“Dan
orang yang saling mencintai karena mencari ridha Allah. Keduanya berkumpul
karena Allah dan berpisah karena-Nya pula” (H.R. Bukhari dan Muslim)
4.
Dalam
naungan kasih Allah
Rasulullah SAW bersabda :
“Orang
yang memadu cinta kasih karena Aku, pasri akan mendapat cinta kasih-Ku. Saling
kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku pula.”
5.
Berada
di surga dalam ridha Allah
Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa menjenguk orang sakit atau
mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ia akan dipanggil Allah :
“Berbahagialah langkahmu, dan kami telah menyediakan tempat tinggalmu di
syurga.” (H.R. Tirmidzi)
6.
Merasakan manisnya iman
Rasulullah SAW bersabda :
“Tiga
perkara barangsiapa memilikinya ia akan merasakan manisnya iman : Cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaannya kepada yang lain, cinta kepada orang
lain karena Allah, dan membenci kekafiran sebagimana ia merasa benci
dicampakkan ke dalam amuk api neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah diatas adalah potret keutamaan ukhuwah, baik di dunia
maupun di akhirat. Dan merupakan keutamaan paling penting bagi mereka yang
meniti perjalanan menciptakan ukhuwah islamiyah dan berenang dalam bahtera
hamba Allah yang hakiki.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
penjelasan singkat di atas dapat kita simpulkan betapa pentingnya ukhuwah dalam
mempertahankan dan menyatukan umat islam yang saat ini sudah mulai mengalami disintegrasi
yang dilatar belakangi oleh berbagai perbedaan kepentingan terutama dalam dunia
politik. Dengan ukhuwah kita bisa merasakan manisnya iman, berada di bawah
naungan cinta Allah, dilindungi Arasy Al-Rahman, diampunkan dosa, bersaudara
karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan Allah dan menjadi
ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah Saw. Bersabda: Artinya:
"Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya
karena Allah, maka malaikat berseru, 'Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan
perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga." (HR.
Imam Al-Tirmizi).
DAFTAR
PUSTAKA
Ulwan,
Abdullah Nashih. 1989. Merajut
Keping-Keping Ukhuwah. Solo : CV. Ramadhani.
Mauliana,
Farid. 2004. Supermentoring Junior. Bandung
: PT. Syamil Cipta Media.
Mauliana,
Farid. 2004. Sepermentoring Senior 2. Bandung
: PT. Syamil Cipta Media.
As-sissi,
Abbas. 1994. Da’wah dan Tarbiyah. Bandung
: Quds Press.
Noferiyanto.
2012. Dahsyatnya Mentoring. Solo : PT. Era Adicitra Intermedia.
[1] Farid
Mauliana, Sepermentoring Junior (Bandung, 2004), hlm. 1.
[2] Farid
Mauliana, Sepermentoring Senior 2 (Bandung, 2004), hlm. 65,
[3] Abdullah
Nashih Ulwan, Merajut Keping-Keping Ukhuwah (Solo, 1989), hlm. 11.
[4] Ibid.,
hlm. 18-24.
[5] Ibid.,
hlm. 27-42.
[6] Abbas as-Sissi, Dakwah dan Tarbiyah (Bandung, 1994),
hlm. 41-47.
[7] Farid
Mauliana, op. cit., hlm. 3.
[8]
Noferiyanto, Dahsyatnya Mentoring (Solo, 2012), hlm. 263-270.
[9] Farid
Mauliana, op. cit., hlm. 5-8.
[10]
Abdullah Nashih Ulwan, op. cit., hlm. 17-25.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar